Selasa, 16 Februari 2021

Manfaat Madu Kekela

Gemuh Bali Bee Farm-Manfaat Madu  Kela/Klanceng bagi Kesehatan



1. Mencegah Diabetes

Madu Klanceng dapat mencegah diabetes. Penyakit yang satu ini disebabkan kadar gula darah yang terlalu tinggi lantaran banyak mengonsumsi makanan atau minuman manis. Oleh karena itu, madu Klanceng adalah solusinya.


2. Mencegah Kanker dan menyehatkan jantung

Madu Klanceng mengandung antioksidan tinggi yang dapat menangkal pertumbuhan sel-sel jahat dalam tubuh, termasuk kanker.


Tak hanya bermanfaat untuk mencegah kanker, madu Klanceng juga bisa meningkatkan kesehatan jantung berkat kandungan antioksidan dan flavonoid. Madu Klanceng juga dapat membantu mencegah pembentukan gumpalan darah, sehingga mengurangi risiko stroke dan penyakit jantung.


3. Memperkuat Sistem Kekebalan Tubuh

Menurut penelitian di School od Medicine, Cardiff University, Inggris, madu Klanceng dapat merangsang produksi sel-sel kekebalan tubuh. Berkat nutrisi dalam madu, metabolisme dan stamina tubuh akan meningkat.

Madu Klanceng turut andil dalam mendetoks bakteri yang dapat membuat tubuh mudah terserang penyakit. Itulah mengapa madu Klanceng dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menangkal segala penyakit.


4. Menyembuhkan Luka

Madu Klanceng tidak hanya baik dikonsumsi dari dalam tubuh, tetapi bisa dimanfaatkan sebagai obat luar. Madu Klanceng dapat mengobati luka luar, termasuk luka akibat jatuh dan luka bakar.


5. Menurunkan Kolesterol dan Berat Badan

Madu Klanceng sejak dulu memiliki beragam manfaat bagi kesehatan tubuh, termasuk mengecilkan perut buncit.


Madu Klanceng juga dipercaya mampu menurunkan badan. Anda bisa mencampurkan madu dengan air hangat dan perasan lemon atau jeruk nipis. Kedua bahan tersebut ampuh mengecilkan perut secara alami.


Madu Klanceng dan jeruk nipis mampu mendorong pembakaran lemak secara efektif. Selain itu, bahan ini juga dapat melancarkan sistem pencernaan. Sehingga lemak dan sisa makanan tidak terlalu lama mengendap dalam tubuh.


Manfaat Madu Klanceng bagi Kecantikan

Tak hanya bermanfaat bagi kesehatan tubuh, madu Klanceng juga berkhasiat untuk kecantikan, mulai dari kulit, bibir, dan rambut. Anda bisa menjadikan madu alami sebagai masker rutin. Berikut adalah manfaat madu Klanceng bagi kecantikan:


Melembapkan kulit

Mengangkat sel kulit mati

Menghilangkan komedo

Menyamarkan noda bekas jerawat

Menghilangkan flek hitam

Mengecilkan pori-pori wajah

Menghaluskan wajah

Mengobati jerawat

Mencegah penuaan dini dan membuat awet muda

Menyamarkan garis halus atau keriput

Melembapkan bibir

Mengatasi bibir pecah-pecah

Memerahkan bibir

Menguatkan rambut

Membuat rambut lebih berkilau

Menghitamkan rambut

Membasmi kutu rambut

 


Sumber: Health Line

Minggu, 07 Februari 2021


Om Awignam Astu


Di tahun 1489 (isaka 1411) Danghyang Nirartha datang di Bali. Sebelumnya Danghyang Nirartha berada tinggal di Dusun Gading Wani (Jembrana). Saat itu yang berkuasa selaku bandesa di Gading Wani ialah turunan Ki Bandesa Mas (Arya Tan Mundur). Ki Bandesa Mas berguru berkenaan keagamaan dan Dharma Brahmana ke Danghyang Nirartha. Sesudah didwijati Ki Bandesa Mas (Arya Tan Mundur) jalani Dharma Brahmana bertitel Ki Dusun dan selaku nabenya ialah Danghyang Nirartha. Disitu Danghyang Nirartha menginformasikan ke turunan Arya Tan Mundur yang berada di Dusun Gading Wani, bila mengadakan yadnya agar dipuput oleh Ki Dusun (Ki Dusun Macan Gading), begitu selanjutnya sampai anak cucu turunannya supaya yadnya dipuput turunan Ki Bandesa Mas (Ki Dusun).-

Ceritra kehadiran Danghyang Nirartha di Gading Wani ;

Dalam satu saat Dang Hyang Nirartha bersama enam orang putra-putrinya pergi melanjutkan perjalanan ke timur. Lantas mereka datang dalam suatu dusun namanya GADING WANI. Kebenaran saat itu orang-orangdesa terserang penyakit sampar (grubug; Bali). Bendesa (Kepala Dusun) Gading Wani ketika mengenali si pendeta tiba lalu selekasnya jemput di tengah-tengah jalan, duduk bersila menyembah. "Mpu Dang Hyang, kami menyampaikan selamat tiba. Jika si pendeta sudah sudi tiba ke tempat kami yang lagi diterpa penyakit sampar. Tiap hari ada-ada saja beberapa orang kami yang wafat tiba-tiba.Kami minta urip (hidup) dengan hormat. Sudilah sangkanya Mpu Dang Hyang memberi kali obat supaya kami pulih dan pandemi ini raib," harapannya. Begitu ucapnya sambil berlinang-linang air matanya.

Dang Hyang Nirartha terharu dan belas kasihan mendengarkannya. Saat itu juga Ki Bendesa diminta ambil air bersih ditaruh di sangku, periuk atau sibuh. Sesudah dikasih mantram oleh si pendeta, lalu diminta memercikkan ke yang sakit dan meminum. Mpu Dang Hyang dan putra-putrinya dihaturkan pesanggrahan tempat istirahat dan disiapkan sajian berbentuk makanan dan buah-buahan. Orang yang sakit sesudah diperciki dan minum air tirtha dari Mpu Dang Hyang saat itu sehat fit kembali lagi.

Di sore harinya (sandhyakala) si pendeta memerintah beberapa orang menempatkan ganten (kunyahan sirih) beliau itu di empat pelosok pinggir dusun untuk menyingkirkan bhuta saat yang membuat penyakit. Beberapa orang dusun yang dikasih perintah menyembah dan selekasnya berjalan melakukannya. Memang sungguh si pendeta ialah orang yang sakti, saat itu orang dusun bisa menunjukkan dan menyaksikan bayang-bayang bhuta saat itu lari ke dalam laut, ternyata beragam macam. Orang dusun banyak yang turun melihat panorama yang ajaib itu, dan semua bingung pada kesaktian si pendeta.
Mulai saat itu beliau dikasih gelar PEDANDA SAKTI WAWU RAWUH (pendeta sakti yang baru tiba). Yang pintar bahasa Kawi menyebutkan beliau DANG HYANG DWIJENDRA (raja guru agama)

Orang dusun semua ria senang. Masing-masing hari bergilir menghaturkan makanan kehadapan si pendeta dan putra-putrinya dan membikinkan pamereman (rumah) di dusun Wani Tegeh. Keinginan orang orang dusun supaya si pendeta tinggal di situ, tapi si pendeta berkeberatan sebab akan melanjutkan perjalanan ke timur. Selanjutnya Ki Bendesa Gading Wani minta berguru dan mebersih (mediksa) jadi pendeta. Si pendeta sudi luluskan permintaannya supaya ada orangtua pembina agama di situ. Ki Bendesa diajar pengetahuan spiritual dan ketuhanan. Seterusnya dibikin bersih (didiksa) jadi pendeta (Dusun) Gading Wani. Kemudian dikasih satu panugrahan tercantum dalam "Kidung Sebun Bangkung".

Ki Bendesa Gading Wani sesudahnya dikukuhkan jadi pendeta (Dusun) menghaturkan anaknya wanita elok ke Dang Hyang Dwijendra yang namanya Ni Jro Patapan selaku pangguru yoga, yakni sinyal bakti berguru menjadi pelayan Mpu Dang Hyang Dwijendra dalam mengendalikan sesajensesajen berama Ni Berit. Dengan suka hati Dang Hyang Dwijendra menerimanya.
PRASASTI KGP BANDESA MANIK MAS
Ida Swabawa maparhyangan ring Pulaki, nganugrahaken sastra dahat khusus wiaktinia ngaran, Canting Mas, suwer Mas, muah Weda Sulambang Geni, Pasupati Rancana. Taler panugrahan Ida Padanda Danghyang Dwijendra.

Wastu asing ngamong wisastra iki, sapreti Santana sira KGP Bandesa

Manik Mas, amangguh senang saparania amanggih rahayu, tan keneng baya redi sira, tour wredi pomah-omah sira, lan katanan wigraha sira.
Nanging yan ana sakulawarga sira, KGP Bandesa Manik Mas,wruh ring sastra, yan sira tan eling ring kawitan, muah tan rumaksa Aji kadi arep, wastu kita kabeh sawangsana KGP Bandesa Manik Mas, tan amanggih rahayu, tan papegatan gering, tungkas masasanak, nemu duka tibaka, muang kawignan.
Mangkana pawarah hira ri sira, Mpu Manik Mas
Muah ana bisama ring Pura Taman Pule kalih Pura Bokcabe. Katibeng antuk pratisantana Kyai Pangeran Mas, tekanning Brahmana Mas, yan ana saterehe Pangeran Mas tan eling, lipia nyungsung ring Pura Taman Pule, ring Pura Bokcabe, wastu ya kabeh, sagotrane Kyai Bandesa Manik Mas,Brahmana Mas, yan tan manula kaya ling Prasasti iki, tan amnggih sadia rahayu, lungsur kasukan, cendek tuwuh, kalah kawisesan, sambe asanak, tan surud kawignan.
Mangkana sosote Kyai Bandesa tekeng pratisantanannia wekas. Ayua lupa kita kabeh sawerungsun kamung.

Selasa, 19 Januari 2021

Panca Tan Matra Sebagai Inti Dari Semesta

Guss Eka

Dalamdunia disadari sebagai bagian dari semesta atau juga bagian badan Tuhan (panentheism).Dalam Tattwa penciptaan, maka bumi terbentuk dari kehendak Cadu Sakti Saguna Brahman (Prabhu Wibhu Krya Jnana Sakti) yg membentuk purusha (inti hidup) serta juga prakerti (bahan kasar hidup)..Dalam hal ini purusha adalah jiwa suksma sarira dan prakerti adalah badan kasar Panca Maha Butha.




Badan yg ketiga adalah atman atau Brahman itu sendiri yg menjadi inti yg utama..Panca Maha Butha yg terdiri dari akasa,bayu,teja,apah,pertiwi adalah badan kasar manusia tumbuhan hewan dan jga dunia semesta degan persentase yg berbeda beda.Kemudian suksma sarira adalah badan halus roh jiwa  yang dibagi menjadi Citta Budhi Manas Ahamkar.tergntung yg mana berkembang secara benar dan baik.

Pada Panca Maha Butha yg membentuk manusia dan juga ditopang oleh suksma sarira serta juga inti hidupnya yaitu atman, maka dunia semesta (baca:bumi ini) memiliki inti atau sebuah rasa di setiap bagian Panca Maha Butha yang ada.Itu disebut Panca Tan Matra.Panca Tan Matra ini juga lah yang memberikan sensasi serta daya rasa dari indera indera manusia Panca Budhindriya itu.Namun hal itu tidak lepas dari kehendak Nya dari Maya Triguna sebagai Hyang Wenang.

Panca Tan Matra itu sendiri adalah zat inti yg menghidupkan sensasi indriya.Adalah sebagai berikut :


1. Rupa tan matra sbagai inti melihat..
2.Gandha tan matra sbagai inti mencium bau2an..
3.Sabda tan matra inti suara dan jga yg didengar..
4.Sparsa tan matra inti dari sentuhan di kulit..
5. Rasa tan matra di pengecap.


Dalam upanishad sekilas dijelaskan bahwa .Panca Tan Matra sebagai berikut.
“Inti rupa..maka pejamkanlah mata dalam sinar cahaya mentari.dan pejam sampai inti itu masuk dan menghilang..maka yang tertinggal itu adalah rupa Tan Matra..”

“Inti sabda.maka heningkan diri dan derngarkan suara yang ada tutup telinga dan biarkan senyap yg tertinggal adalah inti sabda..”


“Inti bau..maka hirup semua dalam prana dan hembuskan semua itu.maka yang tertinggal itu adalah inti Gandha Tan Matra”


“Inti rasa.maka kecaplah seluruh rasa dan kemudian diamkan dan tenangkan..lalu terdiam sampai lenyap,maka yg masih tertinggal adalah rasa Tan Matra..”


“Inti sentuhan..maka rasakan angin yg berhembusndi kulit.dan menikmati sensasi itu..kmudian biarkan lenyap..maka yg tertinggal itu inti dari sparsa tan matra”(sesuai yg teringat)..

Ini adalah yg menjadi penghubung antara semesta dan juga indriya2 yg ada.Tentu ini juga tergntung dari inti hikmat inti yg memberi hidup Atmaning Loka Samastha yg dapat di tangkap Panca Indriya Buddhi.Karena ini lah seluruh Panca Maha butha mnjadi dapat dirasakan oleh sensoris tubuh mahluk itu sendiri..Sebuah Sensasi berbeda ketika ada yg berkembang degan cukup tinggi pada mahluk2 yg lebih rendah..Namun dlam hal ini idep manusia yg mmbuat perbedaan signifikan akan rahasia semesta itu sendiri.Ketika dalam keadaan panik dan bencana tentunya sensasi dari semesta tetap akan dipahami oleh lebih baik dari mahluk yg lain.Kuasa dari Brhman yang Hyang Wenang.

Ini juga disesuaikan dgn kehendak Hyang Dewata terhadap Maya Guna dari setiap jiwa dan wujud mahluk.Tentunya ketika hanya rajas,tamas yang dibiasakan,maka sensori akan sensitif pada kenikmatan Panca Karmendriya atau malah tidak terasakan inti utama kebenaran yang berasal dari hantaran Panca Tan Matra,materialitas yg membelenggu, semoga di dalam kehidupan keseimbangan dan harmoni dengan semesta serta isinya semakin meningkat.

Minggu, 17 Januari 2021

Membangun Kesadaran Diri Memalui Panca Maha Bhuta

 


Guss Eka - Bagi orang Bali, istilah Panca Maha Bhuta bukanlah 
istilah yang asing. Sejauh ini orang Bali memandang 
Panca Maha Bhuta sebagai lima unsur penyusun alam 
semesta yang terdiri dari:
1.    Pertiwi atau tanah
2.    Apah atau air
3.    Teja atau api
4.    Bayu atau angin
5.    Akasa atau Ether/ruang kosong.

Dalam hal ini saya mencoba untuk memperluas makna dari 
keberadaan Panca Maha Bhuta khususnya dalam diri 
manusia sebagai perwujudan dari mikrokosmos. 
Kesadaran apa yang ditimbulkan serta apa implikasi 
nyata terhadap sikap mental dan prilaku manusia dalam 
menjalani hidupnya sehari-hari. Tanpa bermaksud merendahkan 
pemahaman umum yang berlaku, tulisan ini hanyalah 
merupakan sudut pandang saya semata dalam memberikan 
perluasan makna terhadap topik bahasan. Dengan harapan 
bisa memberikan manfaat nyata kepada yang membaca dan 
bukannya justru menjadi materi perdebatan.

Di dalam ajaran tertentu masyarakat Bali, ada istilah 
“Nguripang Panca Maha Bhuta”, atau bisa diterjemahkan 
secara sederhana berarti menghidupkan lima unsur dalam diri manusia. 
Dan saya mencoba memaknai apa yang dimaksud dengan 
istilah tersebut dari sudut pandang saya pribadi, 
berdasarkan apa yang saya pahami, saya alami dan implikasi 
nyata yang saya rasakan.

Mari kita bahas Panca Maha Bhuta secara satu persatu.

PERTIWI
Pertiwi adalah segala sesuatu yang mewujud, berbentuk, 
bisa diraba/dirasa, kokoh dan nyata. Contohnya adalah 
tanah, batu, kayu, besi dan seluruh benda di sekeliling kita. 
Pertiwi lebih umum disebut sebagai elemen TANAH.


Dalam berjalan, pertiwi adalah hal pertama yang perlu diperhatikan. 
Dimana posisi mobil parkir, posisi pohon, posisi meja, posisi kursi dan lain-lain 
agar tidak bertabrakan satu sama lain. Dengan kata lain, pemahaman pertiwi 
bisa dikatakan menjadi koridor atau dasar dalam melangkah. 
Pertiwi adalah sebuah landasan. Atau dalam ilmu bela diri. 
Pertiwi adalah kuda-kuda. Dan tentu pada taraf awal untuk bisa menjadi 
seorang pendekar adalah memiliki kuda-kuda yang benar dan kokoh 
sehingga tidak mudah dijatuhkan lawan. Dan inilah sebabnya, 
pelajaran pertama dari setiap ilmu beladiri adalah menguatkan kuda-kuda.

Dalam pemberdayaan diri, Pertiwi dalam diri menjadi prinsip dalam 
menjalani hidup. Prinsiplah yang memberi dorongan 
dan menjadi kuda-kuda dalam melangkah. 
Prinsiplah yang menjadi pegangan kala seseorang 
harus bangkit dari sebuah kejatuhan. Prinsiplah adalah sebuah 
koridor atau batasan, yang memberi rasa percaya diri. 
Prinsip adalah konsentrasi energi yang belum terurai menjadi 
sebuah semangat. Dengan kata lain, manusia yang telah menyadari 
keberadaan Pertiwi dalam dirinya dan menghidupkannya,
akan menjalani kehidupan dalam sebuah Prinsip dan dalam sebuah koridor. 
Dalam hal ini tentu prinsip yang diambil adalah prinsip yang 
tidak bertentangan dengan etika moral dan budaya tempat kita hidup.

APAH
Apah adalah kebalikan dari pertiwi yaitu segala sesuatu yang 
lentur, mengalir, fleksibel, luwes, mendinginkan dan 
tidak memiliki bentuk yang kokoh. 
Secara nyata wujud Apah adalah elemen AIR.

Pada ulasan mengenai pertiwi, telah dijelaskan mengenai prinsip. Namun pertiwi/prinsip saja tidaklah cukup. Karena memegang prinsip yang terlalu kuat membuat seseorang menjadi kaku dalam bersikap,
 arogan dan mau menang sendiri. Dan ini cenderung akan 
menimbulkan benturan satu dengan yang lain. 
Untuk meredam ini, perlu adanya kelenturan/keluwesan. 
Maka dari itu unsur Apah/air harus diaktifkan.

Sifat air adalah merekatkan pertiwi. Sebagai contoh, 
tanah atau pasir jika disiram dengan air akan menyatu dan 
mengeras, menggumpal menjadi satu kesatuan. Disamping itu,
air mudah meresap kemana-mana. Pengaktifan Apah dalam diri 
akan membuat pribadi seseorang menjadi luwes, terbuka, 
mau menerima pendapat dan membuat seseorang mudah bergaul 
ke semua kalangan sehingga punya banyak teman. 
Dengan demikian, sesuai dengan sifat air, ia mampu 
membuat semua orang berkumpul dan menyatu dan membentuk sebuah kekuatan.

Ibarat dalam ilmu beladiri, setelah kuda-kuda sempurna,
dilanjutkan dengan gerakan-gerakan tangan yang luwes dan indah. 
Sehingga gerakan kuda-kuda yang kokoh ketika dipadu dengan gerakan 
tangan yang luwes menghasilkan sebuah gerakan atau jurus yang indah untuk dipandang.

TEJA
Unsur/bhuta ketiga adalah Teja. Teja sendiri adalah elemen API. 
Dan api membawa dua hal yaitu panas dan cahaya.

Setelah memiliki prinsip dan keluwesan dalam bersikap sebagai 
reaksi atas aktifnya unsur tanah dan air, maka selanjutnya adalah elemen api. 
Satu hal yang disadari secara umum adalah api muncul karena ada materi yang terbakar, sehingga memunculkan panas dan cahaya. Materi sendiri adalah pertiwi, bagai kayu bakar pada api unggun. Sebagaimana ulasan sebelumnya, pertiwi adalah prinsip, konsentrasi dari energi yang belum diuraikan menjadi semangat, gairah (aspek panas dari api) dan keceriaan, pengetahuan, wawasan  serta rasa percaya diri (aspek cahaya).

Tubuh bisa hidup dan merasakan segala sesuatu karena adanya panas tubuh. 
Jika tubuh kehilangan panasnya, maka syaraf akan berhenti berfungsi 
dan tubuh tidak bisa merasakan apa-apa. Demikian juga halnya dengan Teja dalam kehidupan. Seseorang yang elemen Api/Tejanya aktif, 
akan menjalani hidup dengan penuh gairah, semangat, 
antusiame dan keceriaan sebagai refleksi dari aspek panas. 
Sedangkan pengetahuan dan wawasan serta rasa percaya diri 
merupakan refleksi dari aspek cahaya karena cahaya membuat 
seseorang bisa melihat kemana harus melangkah. 
Hal ini membuat seseorang bisa menikmati hidup dan selalu berpikir positif. 
Gairah, semangat, keceriaan dan rasa percaya diri serta wawasan 
dalam menjalani kehidupan (Teja) baru akan muncul setelah 
seseorang memiliki prinsip hidup (Pertiwi). Sehingga Teja sangat erat berhubungan dengan Pertiwi.

BAYU
Bhuta atau unsur keempat adalah Bayu. Bayu adalah sesuatu yang 
menaungi atau melingkupi. Seperti Bumi yang dinaungi atau dilingkupi atmosfir.
Dan isi dari atmosfir adalah Angin. 
Sehingga secara sederhana Bayu diartikan ANGIN.

Namun dalam konteks perusahaan, Bayu adalah sebuah sistem kerja/operasional. Dalam konteks negara, Bayu adalah sistem tata negara. Semua harus tunduk pada sistem. Sistem yang baik menghasilkan atmosfir kerja atau atmosfir hidup yang baik dan nyaman pula.

Keberadaan unsur apah pada diri seseorang, membuat seseorang menyadari keberadaan akan orang-orang disekelilingnya yang membentuk sebuah sistem, 
baik itu sistem kemasyarakatan dimana dia tinggal, sistem kerja di tempat dia bekerja. Seseorang akan sadar bahwa dia tidak bisa hidup sendiri dan terikat oleh sistem dimanapun dia berada. Hal ini akan memunculkan rasa patuh dan rasa hormat serta harga diri sebagai bagian dari sebuah sistem. Dalam tingkat negara, 
inilah nasionalisme dan harga diri sebagai bagian dari suatu bangsa. Dalam perusahaan, Bayu adalah kepatuhan, rasa hormat dan loyalitas pada system. 
Memiliki “sense of belonging”. Ini membuat seseorang menjadi orang yang dapat dipercaya. Inilah unsur BAYU dalam diri seseorang. Unsur Bayu berhubungan erat dengan unsur Apah.

Unsur Bayu dikatakan hidup pada diri seorang ketika  
memiliki harga diri sekaligus rasa hormat,
kepatuhan dan loyalitas kepada sistem dan menjadi 
seseorang yang dapat dipercaya.

AKASA
Bhuta kelima atau terakhir adalah Akasa atau Ether. 
Akasa sendiri bukanlah sebuah unsur, melainkan sebuah RUANG 
(ruang kosong). Didalam ruang inilah seluruh unsur berkolaborasi, 
bersinergi dan bersatu padu. Akasa adalah sebuah “Kuali” 
dimana seluruh bumbu dicampu dan diolah.

Sebagai mahluk, akasa adalah alam tempat kita hidup. 
Sebagai warga Negara, akasa adalah Negara tempat kita tinggal. 
Sebagai karyawan, Akasa adalah tempat kita bekerja. 
Bisa dikatakan Akasa adalah induk dari segala sistem yang ada.

Seseorang yang Akasa dalam dirinya telah dibangkitkan, 
akan sadar bahwa dirinya adalah bagian dari sistem sekaligus 
dia pulalah yang menggerakkan sistem. Dia sadar bahwa sistem akan 
ikut bergerak jika dia bergerak. Dengan kata lain, dia adalah sistem itu sendiri. 
Disini telah terjadi kemanunggalan antara diri pribadi dengan sistem. 
Seseorang sadar memiliki peran dalam menggerakan sistem. 
Karena kesadaran ini, seseorang akan berusaha untuk memainkan dengan sebaik-baiknya, apapun perannya. Karena setiap peran yang dimainkan dengan baik, akan memberikan dampak yang baik untuk sistem, yang adalah dirinya sendiri.

Di tatanan perusahaan, karyawan sadar bahwa perusahaan bergerak 
karena karyawan yang bergerak. Karena sadar dia punya peran dan mampu menggerakkan sistem, maka setiap karyawan berusaha berbuat yang terbaik untuk sistem, yang terbentuk dan dibangun oleh mereka sendiri.

Pada diri seseorang, Akasa yang aktif membuat seseorang sadar mempunyai peran dalam kehidupan. Setiap tindakan yang dilakukan akan berpengaruh terhadap kehidupan, sehingga seseorang akan berusaha berbuat yang terbaik untuk kehidupan.

Jadi menurut saya, jika seseorang mampu menghidupkan 
Panca Maha Bhuta dalam dirinya akan menyadari keberadaan dirinya adalah 
Akasa (wadah/ruang), dimana empat unsur alam semesta yaitu Pertiwi (Tanah), 
Apah (Air), Teja (Api) dan Bayu (Angin) berkolaborasi dan bersinergi. Seseorang akan hidup dengan sebuah prinsip, pantang menyerah (Pertiwi) namun tetap fleksibel dan luwes dalam berinteraksi (Apah), memiliki semangat, gairah serta wawasan yang luas (Teja), memiliki rasa hormat sekaligus harga diri /”Man of honor and respect” (Bayu). Dialah manusia sejati, yang menyadari dirinya tersusun dari 
Panca Maha Bhuta, mampu menguasai dan mengendalikan 
Panca Maha Bhuta. Dialah manusia yang pantas disebut sebagai 
AVATAR, si penguasa dan pengendali empat unsur alam semesta. (GE)

Kamis, 07 Januari 2021

Bersih Bersih Bali Bersih Bersih Di Pantai Kuta

Kuta,6 Januari 2021



Guss Eka - Kegiatan bersih-bersih Pantai Kuta bersama sejumlah elemen / komunitas pecinta alam dari sampah plastik yang dibawa oleh laut.Kegiatan tersebut sinergitas Bersih-Bersih Bali  bersama KUTA BERSATU, King-Kong, TOL TOL,Megaloman, Kedas-Kedas,  Ppito, CUT-Telalang, Driver Gojek Station Gabungan, Jumantik Cilik,  Duta Hijau, Trash Hero, FIM Denpasar dan Sahabat JRX,dan lainnya.Dalam kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Anggota DPR.RI Bali bapak Nyoman Parta.(Guss Eka)

Selasa, 29 Desember 2020

Panca Maya Kosa Dalam Hindu

Gemuh Bali - Manusia merupakan mahkluk sosial dan spiritual. Manusia sebagai mahkluk biologis tentu memiliki susunan tubuh/ anatomi tertentu. Manusia sebagai mahkluk sosial  juga memiliki anatomi sosial. Pembagian ini sebagaimana sudut pandangan kita melihat. Susunan tubuh secara sosial tidak kita bahas dalam artikel ini. Melainkan lapisan tubuh secara spritual.



Dalam filsafat Hindu tubuh manusia terdiri atas badan kasar (Sthula sarira) dan badan halus (sukma sarira)/sang roh/jiwa/atman. Badan kasar adalah badan yang kita lihat secara kasar dan bila dianalogikan sama dengan badan biologis (lapisan yang bisa dilihat secara nyata oleh panca indra).

Dalam Hindu dikenal adanya lima lapisan tubuh yang disebut Panca Maya Kosa yang artinya lima lapisan tubuh spiritual yang membungkus badan manusia. Penjelasan tentang panca maya kosa ini diuraikan secara indah dalam upanisad. Kelima panca maya kosa tersebut adalah sebagai berikut.


  • Annamaya Kosa
  • Lapisan badan ini merupakan lapisan paling luar dari tubuh yang terbentuk dan tumbuh dari makanan. Lapisan badan ini juga dikenal sebagai badan kasar (sthula sarira)/badan biologis kita. Dalam filsafat Hindu, komponen annamaya kosa terdiri atas kelima alat pengamatan/persepsi dan kelima alat untuk bereaksi atau bertindak yaitu jnana indriya dan karma indriya. Kerangka badan, otot, tulang dan semua organ yang bersifat nyata pada tubuh manusia merupakan lapisan annamaya kosa.

    • Pranamaya Kosa

    Berdampingan dengan annamaya kosa adalah pranamaya kosa sebagai sarung vital. Lapisan inilah yang memberikan nafas/energi yang menggerakkan lapisan annamaya kosa karena lapisan ini merupakan lapisan nafas atau prana/energi.

    • Manomaya Kosa

    Sesuai dengan katanya manomaya kosa adalah lapisan manah/pikiran yang membungkus jiwa/atman yang lebih dalam dari pranamaya kosa. Sarung ini juga disebut sarung kekuatan mental atau sarung susunan psikis.

    • Vijnanamaya Kosa

    Lebih dalam lagi adalah lapisan vijnanamaya kosa yaitu lapisan sarung pengertian atau sarung pengetahuan sejati yang membungkus jiwa yang berupa akal budi. Pengetahuan ini adalah pengetahuan sang diri sejati/Jiwatman. Lapisan ini bisa dibilang sebagai kapsul yang paling kecil membungkus ananda maya kosa yaitu pengertian transenden sedangkan ananda maya kosa sendiri merupakan kebahagiaan transenden.

    • Anandamaya kosa

    Lapisan inilah yang paling dalam membungkus dan paling dekat dengan sang diri sejati/Jiwatman. Lapisan ini adalah himpunan dari sejumlah kondisi kebahagiaan/kebahagiaan transenden.
  • Kedua lapisan terakhir yaitu Vijnanamaya kosa dan anandamaya kosa bersifat non material atau non prakerti. Keduanya berada bersama dalam arti bahwa yang satu tak dapat dipisahkan dari yang lainnya. Diantara kelima kosa tersebut merupakan lapisan yang saling ketergantungan satu sama lain dan saling bereaksi. 

    Pranamaya kosa atau sarung daya vital menghubungkan manomaya kosa dengan annamaya kosa dan begitu pula manomaya kosa juga menghubungkan annamaya kosa dan pranamaya kosa dengan vijnanamaya kosa dan anandamaya kosa. 

    Jadi manomaya kosa berdiri diantara kosa-kosa yang bersifat prakrti dan non prakrti/purusa. Manamaya kosa merupakan garis perbatasan diantara keduanya. Jadi manomaya kosa/pikiran sangat penting peranannya dalam mengelola spiritual anda. Dalam hal ini pikiran yang memberikan arah kemajuan spiritual.

    Pengetahuan tentang panca maya kosa sangat penting peranannya dalam praktek yoga secara universal. Dan ini adalah syarat mutlak untuk mencapai tujuan yoga yaitu mencapai suatu kebahagiaan yang transenden/Samadhi. Sama halnya dengan seorang dokter harus menguasai sistem anatomi tubuh seorang manusia sebelum anda menjadi seorang dokter sejati.

Makna Purnama Tilem Dalam Hindu

Guss Eka - Gemuh Bali.Umat Hindu memiliki hari raya yang didasarkan pada sasih/ bulan yaitu Purnama dan Tilem. Hari suci ini dirayakan setiap 15 hari sekali dalam setiap bulannya, pada hari Purnama umat Hindu memuja Sang Hyang Chandra dan pada hari raya Tilem Umat Hindu memuja Sang Hyang Surya.


Perayaan purnama tilem ini merupakan penyucian terhadap Sang Hyang Rwa Bhinneda yaitu Sang Hyang Surya dan Chandra. Pada waktu gerhana bulan beliau dipuja dengan Candrastawa (Somastawa) dan pada waktu gerhana matahari beliau dipuja dengan Suryacakra Bhuwanasthawa.
Hari Purnama, sesuai dengan namanya, jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa) sedangkan hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa). Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala). Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya.
Sloka yang berkaitan dengan hari Purnama dan Tilem dapat ditemui dalam lontar Sundarigama yang mana disebutkan:
‘Muah ana we utama parersikan nira Sang hyang Rwa Bhineda, makadi, Sanghyang Surya Candra, atita tunggal we ika Purnama mwang Tilem. Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga, yan ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika, para purahita kabeh tekeng wang akawangannga sayogya ahening-hening jnana, ngaturang wangi-wangi, canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya ring sanggar, Parhyangan, matirtha gocara puspa wangi”
Artinya:
Ada hari-hari utama penyelenggaraan upacara persembahyangan yang sejak dulu sama nilai keutamaannya yaitu hari Purnama dan Tilem. Pada hari Purnama, bertepatan dengan Sang hyang Candra beryoga dan pada hari Tilem, bertepatan dengan Sang hyang Surya beryoga memohonkan keselamatan kepada Hyang Widhi. Pada hari suci demikian itu, sudah seharusnya kita para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan dirinya lahir batin dengan melakukan upacara persembahyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang Widhi.
Pada hari Purnama dan Tilem ini sebaiknya umat melakukan pembersihan lahir batin dengan mengadakan persembahyangan puja bhakti kehadapan Hyang Widhi untuk memohon anugerah.
Sebelum melakukan puja umat hendaknya melakukan pembersihan badan dengan air lebih dulu karena kondisi bersih secara lahir dan batin ini sangat penting, karena dalam jiwa yang bersih akan muncul pikiran, perkataan dan perbuatan yang bersih pula. Kebersihan juga sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan, terutama dalam hubungan dengan pemujaan kepada Hyang Widhi.
Tilem
Hari Tilem adalah merupakan Prabhawa dari Sang Hyang Rudra sebagai perwujudan Sang Hyang Yamadipati (Deva kematian) yang memiliki kekuatan pralina (Pamuliha maring sangkan Paran). Umat Hindu secara tekun melaksanakan persembahan dan pemujaan kehadapan Sang Hyang Widhi. Persembahan hari Tilem dimaksudkan agar umat Hindu yang tekun melaksanakan persembahan dan pemujaan pada hari Tilem, ketika meninggal rohnya tidak diberikan jalan yang sesat (neraka), namun sebaliknya agar diberikan jalan ke swarga loka oleh Sang Hyang Yamadipati (lontar Purwana Tattwa Wariga).
Menurut petunjuk sastra Agama Hindu “Lontar Purwa Gama” menuntun umat Hindu agar selalu ingat melaksanakan suci laksana, khususnya pada hari Purnama dan hari Tilem, untuk mempertahankan serta meningkatkan kesucian diri, terutama para Wiku, untuk kesejahteraan alam beserta isinya karena semua mahluk akan kembali ke hadapan yang Maha Suci, tergantung dari tingkat kesucian masing-masing.
Proses penyucian diri, menurut petunjuk Sastra Agama yang penekanannya pada, “Suci Laksana”, karena pada pelaksanaannya mengandung makna yang sangat tinggi, dalam arti pada penekanan tersebut sudah terjadi penyatuan dari pelaksanaan Catur Yoga, sehingga atas kekuatan dari Catur Yoga tersebut dapat menyucikan Stula Sarira (badan Kasar), Suksma Sarira (badan halus) dan Antahkarana Sarira (Atma), yang ada pada diri manusia khususnya umat Hindu.
Purnama
Pada umumnya di kalangan umat Hindu, sangat meyakini mengenai rasa kesucian yang tinggi pada hari Purnama, sehingga hari itu disebutkan dengan kata “Devasa Ayu”. Oleh karena itu, setiap datangnya hari-hari suci yang bertepatan dengan hari Purnama maka pelaksanaannya disebut “Nadi” tetapi sesungguhnya tidak setiap hari Purnama disebut ayu tergantung juga dari Patemon dina dalam perhitungan wariga.
Di dalam Lontar “Purwana Tattwa Wariga” diungkapkan sebagai berikut:
“Risada Kala patemon Sang Hyang Gumawang Kelawan Sang Hyang Maceling, mijil ikang prewatekening Dewata muang apsari, saking swargo loko, purna masa ngaran”.
Maksud Lontar di atas, bahwa Sang Hyang Siva Nirmala (Sang Hyang Gumawang) yang beryoga pada hari purnama, untuk menganugerahkan kesucian dan kerahayuan (Sang Hyang Maceling) terhadap seisi alam dan Hyang Siva mengutus para Deva beserta para Apsari turun ke dunia untuk menyaksikan persembahan umat manusia khususnya umat Hindu kehadapan Sang Hyang Siva.
Oleh karena itulah disebut Piodalan nadi, Galungan nadi, sehingga ada penambahan terhadap volume upakaranya. Selain itu karena Hyang Siva merupakan Dewanya Sorga, maka umat Hindu selalu tekun menghaturkan persembahan serta memujanya kehadapan Hyang Siva setiap datangnya hari Purnama dengan harapan bagi umat Hindu agar nantinya setelah ia meninggal, rohnya bisa diberikan tempat di Sorga, atau kembali ke alam moksha.

Mantan Bupati Tabanan Di Tahan KPK

Mantan Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti terjerat kasus dugaan korupsi pengurusan Dana Insentif Daerah (DID), Tabanan, Bali tahun 2018 b...

Adzense