Kamis, 24 Maret 2022

Mantan Bupati Tabanan Di Tahan KPK

Mantan Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti terjerat kasus dugaan korupsi pengurusan Dana Insentif Daerah (DID), Tabanan, Bali tahun 2018 bersama I Dewa Nyoman Wiratmaja saat mengenakan rompi oranye di Gedung KPK, Jakarta.
.
.
.
#TabananPost

 

Sabtu, 19 Februari 2022

Pura Melanting

PURA PULAKI

Pura Pulaki terletak di pesisir pantai Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgrak, di tepi jalan Singaraja- Gilimanuk sekitar 53,5 Km dari kota Singaraja. Kondisi jalan cukup baik. Fauna pendukung terkenal yang sangat menarik ialah kelompok kera dan jalak putih.Pura Pulaki terletak di lereng pegunungan berbatu dan bersemak belukar.

Kisah berdirinya Pura Pulaki tidak terlepas dari sejarah perjalanan Dang Hyang Nirartha dari Blambangan (Jawa Timur) ke Dalem Gelgel (Bali), pada masa pemerintahan Dalem Cri Waturenggong (1460-1550 M). Pura Pulaki merupakan Pura Kahyangan Jagat yang dipuja (disungsung) oleh seluruh umat Hindu di Bali. Sejak pemugaran besar-besaran yang dimulai tahun 1984, kini Pura Pulaki  sudah tampak megah dan luas serta memungkinkan umat Hindu melakukan persembahyangan bersama dengan leluasa. Pura Pulaki sebenarnya merupakan pusat dari serangkaian pura sekitarnya, yaitu  Pura Kerta Kawat pada Km 51 dari Singaraja (sekitar 750 M di sebelah selatan jalan raya), Pura Melanting, Pura Pabean, dan Pura Pemuteran. Urut- urutan upacara yang diadakan pada piodalan yang jatuh pada Purnamaning Kapat dimulai dari Pura Pulaki, kemudian Pura Melanting dan Kerta Kawat, lalu di Pura Pemutaran dan terakhir di Pura Pabean. Letaknya yang strategis di tepi jalan raya sehingga tidaklah mengherankan  sangat banyak mendapat kunjungan dari wisatawan asing ataupun domestik. Sudah terdapat tempat yang sangat baik untuk beristirahat dan tempat parkir yang sangat luas.Di kawasan Pura Pulaki, di sekitar Pura Melanting, sekitar 1987 ditemukan beberapa alat perkakas yang dibuat dari batu , antara lain: berbentuk batu picisan, berbentuk kapak dan alat-alat dari batu lainnya. Berdasarkan  hal itu dan jika dilihat dari tata letak maupun struktur pura, maka dapat diduga latar belakang pendirian Pura Pulaki awalnya berkaitaan dengan sarana pemujaan masyarakat prasejarah yang berbentuk bangunan berundak.

Di sisi lain, dilihat dari letak Pura Pulaki yang terletak di Teluk Pulaki dan memiliki banyak sumber mata air tawar, maka kawasan ini diduga sudah didatangi manusia sejak berabad-abad yang lalu. Kawasan Pulaki menjadi cukup ramai dikunjungi oleh perahu dagang yang memerlukan air sebagai bahan yang dibutuhkan dalam pelayaran menuju ke Jawa maupun ke Maluku. Bahkan kemungkinannya pada waktu itu sudah terjadi perdagangan dalam bentuk barter. Barang yang kemungkinan dihasilkan dari kawasan Pulaki adalah gula dari nira lontar. Ini didasarkan bukti dengan ditemukannya tananam lontar di sepanjang pantai dari Gilimanuk ke timur, termasuk Pulaki.

Dari uraian itu, dapat diduga Pulaki sudah ada sejak zaman prasejarah, baik berhubungan dengan tempat suci, maupun sebagai tempat aktivitas lainnya. Hal ini berlanjut sampai dengan  peristiwa penyerangan Bali oleh Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam buku ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang disusun Ketut Ginarsa tertulis bahwa pasukan Gajah Mada turun di Jembrana lalu berbaris menuju desa-desa pedalaman, seperti Pegametan, Pulaki, dan Wangaya.

Pulaki juga pernah dijadikan pusat pengembangan Agama Hindu sekte Waisnawa sekitar 1380 Masehi seperti tertera dalam buku “Bhuwana Tatwa Maharesi Markadeya” yang disusun  Ketut Ginarsa. Kisah tentang Pulaki terdapat juga dalam buku “Dwijendra Tatwa” yang ditulis I Gusti Bagus Sugriwa. Di situ terdapat uraian seperti: “Baiklah adikku, diam di sini saja, bersama-sama dengan putri kita Ni Swabawa. Ia sudah suci menjadi Batara Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Batara Dalem Ketut yang akan dijunjung dan disembah orang-orang di sini yang akan kanda pralinakan agar tak kelihatan oleh manusia biasa. Semua menjadi orang halus. Daerah desa ini kemudian bernama Pulaki”.

Keberadaan Pura Pulaki sebagai suatu tempat suci sudah ada sejak zaman prasejarah dan menghilang setelah kehadiran Dang Hyang Nirartha dengan peristiwa dipralinakannya Pura Pulaki tanpa penghuni secara sekala berlangsung cukup lama. Jadi, Pura Pulaki menghilang dari penglihatan sekala dan daerah ini praktis kosong sejak tahun 1489 sampai sekitar tahun 1920 atau selama sekitar 431 tahun. Namun sebelum itu, sejak zaman prasejarah sampai dengan kehadiran  Ida Betara Dang Hyang Nirarta 1489, Pura Pulaki masih tetap sebagai tempat pemujaan, baik yang dilaksanakan orang prasejarah, orang Baliaga  maupun Sekte Waisnawa yang dikembangkan Rsi Markandeya dan orang pengikut Tri Sakti dengan simbol tiga kuntum bunga teratai yang berwarna merah, hitam, dan putih yang dipetik Dang Hyang Nirarta dari kolam yang diperoleh dalam perut naga di Pulaki.

Suatu daerah yang tak dihuni selama ini, sudah pasti menjadi hutan belantara dan hanya dihuni binatang buas, babi hutan, hariamau, banteng dan lain-lainnya. Kendati begitu, menurut Simba, masyarakat Desa Kalisada dan beberapa desa di sekitarnya masih tetap setia ngaturang bhakti kepada Betara di Pulaki dengan naik perahu dari pantai Kalisada. Namun saat itu, Pura itu sudah tak ada lagi, sehingga pemujaannya dilakukan pada tumpukan batu yang ada di sekitar Pura Pulaki yang lokasinya berada pada tempat sekarang ini.

Untuk itu, Simba menduga Pura Pulaki sebenarnya berada di dalam hutan, bukan di tempat yang sekarang ini. Lokasi pura yang sekarang diperkirakan sebagai tempat pengayatan (pemujaan dari jarak jauh) karena warga tak berani masuk ke dalam hutan mengingat tempat ini sudah dihuni binatang buas, sehingga tak mungkin ada orang yang berani masuk  ke pedalaman.

Tahun 1920 Pulaki mulai dibuka yang ditandai dengan disewakannya tempat ini oleh pemerintah Kolonial Belanda kepada orang Cina bernama Ang Tek What. Kawasan ini kemudian dikembalikan sekitar tahun 1950 yang selanjutnya dilakukan pemugaran-pemugaran terhadap tempat suci di kawasan itu.Pemugaran Pura Pulaki dan pesanakannya dilakukan setelah tahun 1950.

Menurut Simba, Pura Pulaki dan pesanakan, seperti Pura Pabean, Pura Kerta Kawat, Pura Melanting, Pura Belatung, Pura Puncak Manik, dan Pura Pemuteran tidak bisa dipisahkan. Dilihat dari lokasi sejumlah pura tersebut dan sesuai konsep Hindu Bali itu termasuk konsep sapta loka, yakni konsep tentang sapta patala atau 7 lapisan alam semesta.

Jadi, Pura Pulaki yang dibangun atas dasar  perpaduan antara daerah pegunungan dan laut atau teluk sehingga tata letak, struktur dan lingkungan Pura Pulaki ini ditemukan unsur segara dan gunung yang menyatu.

Untuk sekadar tambahan, bahwa dalam sejarah Pura Pulaki ditanyakan bahwa Dang Hyang Nirartha datang ke Bali memiliki tujuan antara lain melantik Dalem Watu Renggong yang memerintah di Bali tahun 1460-1550 M. Perjalanan beliau ke Klungkung dilakukan dari Desa Gading Wani. Anak-anaknya ditinggalkan di Desa Gading Wani. Beliau berjanji akan segera kembali setelah acara di Klungkung berakhir. Tetapi ternyata, Dang Hyang Nirartha tidak datang dalam jangka waktu yang lama. Putri beliau, Ida Ayu Swabhawa akhirnya sangat gusar. Penduduk desa-desa di sekitarnya yang berjumlah 8.000 orang dikutuk menjadi wong samar. Semua menjadi wong samar termasuk dirinya. Ida Ayu Swabhawa dengan ribuan pengiringnya tinggal di bawah pohon-pohon besar.Pohon-pohon itu memiliki sulur-sulur tempat bergelayut (ngelanting dalam Bahasa Bali).Di areal pohon itulah Ida Ayu Swabhawa dibuatkan pelinggih yang disebut Pura Melanting.

Beliau dengan wong samar itulah yang menjadi penguasa pasar. Barang siapa yang melakukan transaksi jual-beli pagi tidak sesuai dengan etika moral dharma akan diganggu hidupnya oleh Dewi Melanting dengan anak buahnya. Kalau kegiatan di pasar mengikuti dharma maka Dewi Melanting itulah yang akan melindunginya.

Di samping distanakan di Pura Melanting ada juga stana beliau yang disebut Pura Tedung Jagat. Pura inilah yang kemudian disebut Pura Pulaki dan juga distanakan roh suci Dang Hyang Nirarhta. Karena itu, Pura Melanting dan Pura Pulaki merupakan lambang predana-

purusa sebagai tempat pemujaan untuk memohon kemakmuran ekonomi. Pura Pulaki disungsung  subak-subak di sekitar Pulaki. Selain itu, Pura Pabean merupakan tempat pemujaan bagi para nelayan dan para pedagang antarpulau. Mungkin identik dengan Pura Ratu Subandar di Pura Batur dan Besakih. Pura Kertha Kawat juga termasuk kompleks Pura Pulaki sebagai stana Tuhan untuk memohon tegaknya moral etika dan hukuman dalam berbisnis. Di pura ini disebut stana Bhatara Kertaningjagat. Pura Gunung Gondol terletak 3 Km dari pusat Pura Pulaki sebagai stana untuk memuja Dewa Mentang Yudha yaitu Tuhan dalam fungsinya sebagai pelindung dari segala bahaya seperti Dewa Ganesha.

(Dinas Kebudayaan Singaraja)

Senin, 29 November 2021

Manfaat Madu Bagi Kesehatan Manusia

 Lebah Trigona / Klanceng / Kela merupakan salah satu jenis lebah madu tanpa sengat yang terdapat di Indonesia. Lebah Trigona hidup berkoloni pada celah pohon, batang bambu, pilar rumah atau celah-celah batu,atau tempat lainnya.


Banyaknya beredar Madu palsu/madu oplosan/madu sirupan atau bahkan sampai ke madu sintetis perlu penjelesan dan edukasi yang benar kepada konsumen yang mana madu murni,yang mana madu asli,yang mana madu palsu.

Mengingat kepercayaan publik terhadap madu saat ini sangat kritis.

Madu tidak perlu lagi di iklanin berlebihan karena memang sudah demikian baik dan bermanfaat secara intrinsik. 


Karakter madu Trigona memang agak encer, rasa manis asam seperti nano-nano, terjamin kemurniannya tanpa campuran apapun. setiap kali masa panen, rasa, warna, kekentalan selalu berubah-ubah tergantung ketersediaan vegetasi yang ada.


Manfaat madu Trigona atau klanceng  sangat banyak untuk pengobatan. Ukuran lebah klanceng sangat kecil tetapi kualitas madu yang dihasilkan lebah klanceng sangat bagus. Kandungan fruktosa dan glukosa lebah klanceng lebih baik dibanding madu lebah lain.


Berikut ini adalah manfaat/khasiat madu Trigona/Kela


1. Mengobati penyakit Diabetes 

2. Mengobati penyakit maag akut

3. Meningkatkan daya tahan/sistem kekebalan tubuh

4. Mencegah Stroke

5. Memperlancar peredaran darah

6. Membantu pembentukan darah

7. Meningkatkan hormon

8. Memperkuat fungsi otak dan jantung

9. Memperbaiki sel tubuh yang rusak 

10. Dapat digunakan sebagai pelembab kulit

11. Mengembalikan kebugaran tubuh

12. Mengendurkan bagian syaraf yang tegang

13. Menghilangkan rasa letih

14. Membunuh bakteri

15. Meningkatkan kecerdasan anak 

16. Dapat dikonsumsi penderita diabetes melitus 

17. Membantu masa penyembuhan pasca operasi

18. Mencegah kanker/anti kanker,

.

.

.

.

081934338855

Senin, 15 November 2021

Panca Srada Dalam Agama Hindu

Gemuh Bali - Umat Hindu Percaya dengan adanya lima keyakinan dalam beragama yang di sebut dengan Panca Srada


Umat Hindu berpegang teguh pada dasar keyakinan tersebut dalam menjalankan agamanya. Dasar inilah yang selanjutnya menjadikan semua umat yang beragama Hindu percaya dan sangat meyakini keberadaan Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa. Dasar keyakinan ini terdiri dari lima aspek yang disebut dengan Panca Sradha. Kelima aspek tersebut antara lain:

1Keyakinan terhadap Brahman/Widhi Tattwa.

Ajaran pertama ini berfokus pada keyakinan pada Brahman atau Tuhan. Ada banyak sebutan nama Tuhan dalam agama Hindu, seperti Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Brahman. Ini artinya, setiap umat Hindu meyakini dengan benar bahwa Tuhan itu ada, Maha Esa, Maha Kuasa, Maha segalanya. 

2.Keyakinan terhadap Atman/Atma Tattwa.

Kedua adalah Atman Tattwa atau lebih kerap disebut dengan Roh Suci. Umat Hindu meyakini pula bahwa keberadaan Jiwatman membuat manusia bisa hidup. Atman diyakini memiliki sifat kekal dan sempurna. 

3.Keyakinan terhadap Karmaphala/Karmaphala Tattwa.

Keyakinan dasar ketiga dalam ajaran agama Hindu adalah keberadaan dari Karmaphala. Kata Karma sendiri memiliki arti perilaku atau perbuatan, sementara phala artinya hasil yang didapat. Jadi, jika dijelaskan secara singkat, Karmaphala ini artinya hasil yang didapat dari perbuatan yang dilakukan. 

Sederhananya, umat Hindu sangat percaya dengan adanya hukum sebab akibat dalam kehidupan sehari-hari. Karmaphala sendiri dibedakan menjadi tiga bagian waktu, yaitu masa kini atau sekarang, masa nanti atau hari esok, dan masa depan. 

4.Keyakinan Terhadap Samsara/Samsara Tattwa.

Ajaran keyakinan keempat dalam Panca Sradha adalah Samsara Tattwa atau percaya dengan adanya reinkarnasi, penjelmaan kembali atau kelahiran kembali, dalam agama Hindu ini dikenal dengan istilah Punarbawa yang artinya kelahiran berulang-ulang. Umat Hindu percaya setiap ruh akan kembali lagi kepada Tuhan dan harus dalam keadaan yang suci. 

5.Keyakinan Terhadap Moksa/Moksa Tattwa.

Keyakinan terakhir adalah meyakini dan percaya dengan Moksha, yaitu bersatunya Brahman dengan Atman. Bukan tanpa alasan, tujuan tertinggi dalam agama Hindu adalah bisa mencapai Jagadhita dan Moksa. 

Secara sederhana, masyarakat Hindu percaya bahwa adanya Panca Sradha akan membuat mereka lebih mengetahui mana hal yang baik dan buruk. Apa yang dilakukan saat ini akan memberikan hasil yang setimpal nantinya, seperti keyakinan Karmaphala. 

Minggu, 24 Oktober 2021

Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan Berbagi Senyum Dengan 200 Anak

 

Bangli,24 Oktober 2021.

Gemuh Bali - Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan.

Pembagian paket sembako,uang tunai dan alat-alat tulis untuk 200 anak asuh Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan di seputaran kabupaten Bangli.

Kegiatan tersebut dilakukan di halaman sekolah SMP Negeri 2 Tembuku,Bangli.

Dalam kegiatan tersebut di dukung oleh Polres Bangli,Kapolsek Tembuku,,Dinas Sosial,pihak sekolah dan instansi lainnya.

Dana yang di keluarkan oleh Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan dalam kegiatan tersebut kurang lebih Rp,125.000.000

Selain paket sembako,uang tunai,alat-alat sekolah untuk anak-anak kurang mampu juga di serahkan 100 paket sembako untuk lansia.

Kamis, 21 Oktober 2021

Pergelangan Kaki Hampir Putus Terkena Pisau Mesin Rumput


Gemuh Bali -Bapak Made Budiasa(1977) pergelangan kakinya hampir putus dikarenakan terkena pisau mesin rumput.Kejadian tersebut terjadi sekitar tujuh bulan lalu.Pada waktu itu biaya operasi dibantu oleh sebuah yayasan.Dan bantuan dari desa/dinas terkait.

Dan saat ini Bapak Made hampir setiap minggunya kontrol ke RS.

Bapak Made memiliki 4 orang anak.Saat ini Bapak Made sudah tidak bisa bekerja lagi,Ni Wayan Sekar,istri dari Pak Made yang menjadi tulang punggung keluarga saat ini sebagai buruh serabutan atau mencari sayur untuk dijual.

Pak Made dan keluarga menempati kebun orang dikaki Gunung Batukaru daerah Pujungan,Tabanan,Bali

Kamis, 14 Oktober 2021

Bedah Rumah Yayasan Relawan Bali

Yayasan Relawan Bali  - Andy Karyasa Wayan 


Kegiatan awal proses bantuan bedah rumah dari Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan untuk keluarga Kadek Yoni Suantari yang beralamat di Br Dinas Mekarsari,Desa Pujungan,Pupuan.

Dalam kegiatan tersebut di dukung dan dihadiri oleh pihak desa Pujungan yang diwakili oleh Kepala Wilayah Br Mekarsari Bapak I Nyoman Budiarta,selain itu juga dihadiri oleh Babinkantibmas Desa Pupuan Aipda I Kadek Aditya S,Serta Dan dari Relawan Bali.

Kegiatan tersebut adalah murni untuk kemanusiaan dan sebagai bentuk sinergitas bersama pemerintah Tabanan khususnya Bali pada umumnya.

Rabu, 15 September 2021

Tat Wan Asi


 Tat Twam Asi berasal dari kata Tat yang artinya Ia, Twam yang artinya kamu, dan Asi artinya adalah. Jadi, Tat Twam Asi adalah ia adalah kamu.

Tat Twam Asi mengajarkan kita memiliki jiwa sosial dan keinginan untuk menolong orang lain, karena menolong olang lain sama dengan menolong diri sendiri.

Dengan mengenal dan memahami ajaran Tat Twam Asi, manusia dapat merasakan berat dan ringan hidup dan kehidupan di dunia ini. Pada hidup ini hendaknya selalu saling tolong menolong, merasa senasib dan sepenanggungan.

Tat Twam Asi, selain mengajarkan tentang jiwa kesusilaan, juga merupada dasar Susila Hindu. Susila merupakan tingkah laku yang baik dan mulia selaras dengan ketentuan Dharma.


Paket Sembako untuk Anak yatim piatu yang sedang sakit


Terima kasih Donatur.

#MamudjaSarwaPrani

Rabu, 18 Agustus 2021

Pendakian Gunung Abang ditemani sebuah cahaya.

Gunung abang merupakan  bukit yang berupa



Hutan Basah dengan dominasi tanaman cemara.

Gunung Abang merupakan hutan basah dan cemara. Gunung Abang memiliki ketinggian 2.150mbpl.Uniknya, dipuncak Gunung Abang terdapat sebuah gapura yang yang terbuat dari susunan batu bata dan di dalam nya terdapat tempat beribadah untuk umat Hindu. Dari Puncak ini juga kita bisa melihat pemandangan Gunung Batur dan Danau Batur yang ekstotis. Dari puncak ini juga kita bisa melihat Gunung Agung yang terhalang oleh rimbunannya pepohonan dan juga Gunung Rinjani yang jauh di seberang Pulau Lombok. Selain itu, matamu juga akan dimanjakan dengan pemandangan alam sekitar yang begitu asri.
Dalam pendakian beberapa hari Lalu yang bertepatan dengan hari Kliwon Guss Eka melakukan pendakian dengan ditemani sebuah cahaya senter.
Gunung Abang sendiri tidak setenar atau kurang diminati oleh para pendaki, sehingga tiap harinya para pendaki ke gunung ini tidak sebanyak seperti yang di Gunung Batur. Padahal jalur pendakian gunung Abang tidak begitu sulit dan sudah ada petunjuk jalan yang jelas.

Rabu, 21 Juli 2021

Dhana Punia Menurut Hindu

Gemuh Bali - Tapah param krtayuge tretyam jnananucyate,Dvapara yajnamitya curddanam ekam kalau Yuge.

Artinya :
Pelaksanaan tapa merupakan kewajiban utama di jaman Satya yuga, Jnana pada jaman treta yuga, Yajna pada masa Dwapara Yuga dan dhanam pada masa Kali yuga

Secara umum dalam ajaran Hindu, ada 3 jenis dhana punia


  1. Artha dana pemberian berupa harta benda baik berupa makanan, minuman, pakaian, rumah, tanah, dan lain-lain.
  2.  Abhaya dana pemberian berupa perlindungan, rasa aman dan ketertiban kepada orang lain atau masyarakat.
  3. Brahma dana pemberian berupa ilmu pengetahuan (Jnana). baik itu berupa ilmu pengetahuan teknologi, maupun ilmu pengetahuan Agama.

Jumat, 11 Juni 2021

Sinergitas Yayasan Relawan Bali Bersama Dinsos Tabanan

Tabanan. Jumat,11 Juni 2021


Kegiatan Yayasan Relawan Bali kordinator Kabupaten Tabanan melakukan penyerahan bantuan 2 korsi roda untuk warga yang sakit di wilayah Tabanan bersama Ketua Kordinator Kesejahteraan Sosial Tabanan (K3S) Ny Rai Wahyuni Sanjaya bersama staf dan didampingi Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tabanan Bpk I Nyoman Gede Gunawan beserta jajarannya.

Dalam kegiatan tersebut korsi roda diberikan kepada warga yang bernama I Nengah Sumanda yang mengalami sakit tidak bisa berjalan di wilayah dajan Peken,Tabanan dan I Made Sadra,di wilayah Subamia,Bapak Made Sadra yang sela ini mengalami sakit stroek.

Dari pihak keluarga sangat berterima kasih atas kegiatan tersebut karena sudah bisa membantu sedikit meringankan beban kehidupan mereka.Begitu Pula Ny Rai Wahyuni Sanjaya dan Bapak Kadis Sosial Tabanan berharap agar kegiatan seperti ini bisa dilakukan secara berkala dengan bersinergi dengan Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan.


Rabu, 26 Mei 2021

Yayasan Relawan Bali Bantu Bedah Rumah Warga Kurang Mampu

Pupuan,Rabu,26 Mei 2021


Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan

Kegiatan awal proses bantuan bedah rumah dari Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan untuk keluarga Komang Ariana yang beralamat di Br Dinas Tibudalem,Desa Pujungan,Pupuan.

Kegiatan tersebut di dukung dan dihadiri oleh pihak desa Pujungan yang diwakili oleh Kepala Wilayah Tibu Dalem I Kadek Dana Dwi Swapraja,SH yang pada kesempatan tersebut Kepala Desa Pujungan berhalangan untuk hadir dikarenakan ada kepentingan lain yang tidak bisa beliau tinggalkan,selain itu juga dihadiri oleh Babinkantibmas Desa Pupuan Aipda I Kadek Aditya S,Serta dari Pihak TKSK kecamatan I Made Riskawan.Dan beberapa dari relawan.

Pihak keluarga dari Komang Ariana mengucapkan banyak - banyak terima kasih kepada Admin Yayasan serta semua pihak yang mendukung kegiatan dan bantuan tersebut termasuk kepada donatur dan para relawan Relawan Bali.



SiCepat Ekspres

Kamis, 08 April 2021

Bantuan Kamar Mandi Dari Yayasan Relawan Bali

Yayasan Relawan Bali Kediri,5 April 2021.

Pada kesempatan ini bantuan dari Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan berupa sebuah bangunan kamar mandi-WC diberikan kepada keluarga I Ketut Madya yang beralamat di br Jagasatru,Kediri,Tabanan.


Keluarga I Ketut Madya dari sejak awal belum memiliki kamar  mandi karena situasi ekonomi yang serba kekurangan.

Maka dari itu admin Yayasan Relawan Bali  - - Andy Karyasa Wayan bersama admin bersedia membantu membuatkan kamar mandi.Dari sejak awal proses bantuan kamar mandi tersebut sudah didukung oleh pihak Desa dan dari Pihak Koramil Kediri,

Keluarga I Ketut Madya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan tersebut kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini.

Guss Eka - MamudjaSarwaPrani

Selasa, 09 Maret 2021

Catur Bendana Dharma Ring Sang Sulinggih

 


Gemuh Bali -Patut kawikanin sareng sami, sang maraga sulinggih ring agama Hindu ring Bali kaiket antuk sesana sajeroning kahuripane. Wenten catur paiketan sane patut pageh-pagehen keamongin olih sang sulinggih sane kebawos “Catur Bandana Dharma”, inggih punika :

1. Amari Sesana, teges ipun, sang maraga sulinggih patut ngentosin sesana miwah swadharmaning walaka antuk sesana miwah swadharmaning kasulinggihan (Siva Sesana, Wrti Sesana, Rsi Sesana). Nenten patut malih sang sampun madiksa ngambil pakaryan sang walaka, mekadi “adual-atuku” utawi jual-beli, miwah saluwiring sesana sane kemargyang olih sang durung madwijati. Yan durung andel ngamong sesana janten ngawinang kawon.

2. Amari Wesa, teges ipun ngentosin ceciren pengadegan mekadi nenten malih dados macukur, yening medal setata makta tateken, miwah sane sewosan.

3. Amari Aran, teges ipun magentos biseka utawi pesengan sang sampun madwijati, nenten malih nganggen pesengan sane walaka, nanging sampun kagentosin antukpanugrahan biseka utawi paica Nabe inggih punika : Walakalanang …………………………………………. abiseka nama …………………………………., Walaka Istri abiseka nama ………………………….. Ida Pedanda Istri ………………………….

4. Umulahaken dharma mwang kaguru susrusan, teges ipun stata ngelaksanayang ajaran agama (satyam, sivam, sundaram), pageh tur tegep ring separititah Nabe. Tan pisan patut pacang nungkasin Nabe.

Punika awinan sadurung resmi dados wiku patut katureksanin rihin olih Calon Nabe. Dwaning abot pisan pacang ngamong sesana punika, pinunas tityang ring pasemetonan utawi sisya, masyarakat mangdane sareng ngeremba sang pedanda anyar mangdene prasida stata ngamong kasucian miwah sesana. Dwaning yan parilaksana wikune kapungkur simpang ring sesana, boya wantah pacang nyepungin linggih nabe miwah anggan idane, nanging teler pacang ngawinan penilaian nenten becik ring agama Hindu druwene ring Bali.

Selasa, 16 Februari 2021

Manfaat Madu Kekela

Gemuh Bali Bee Farm-Manfaat Madu  Kela/Klanceng bagi Kesehatan



1. Mencegah Diabetes

Madu Klanceng dapat mencegah diabetes. Penyakit yang satu ini disebabkan kadar gula darah yang terlalu tinggi lantaran banyak mengonsumsi makanan atau minuman manis. Oleh karena itu, madu Klanceng adalah solusinya.


2. Mencegah Kanker dan menyehatkan jantung

Madu Klanceng mengandung antioksidan tinggi yang dapat menangkal pertumbuhan sel-sel jahat dalam tubuh, termasuk kanker.


Tak hanya bermanfaat untuk mencegah kanker, madu Klanceng juga bisa meningkatkan kesehatan jantung berkat kandungan antioksidan dan flavonoid. Madu Klanceng juga dapat membantu mencegah pembentukan gumpalan darah, sehingga mengurangi risiko stroke dan penyakit jantung.


3. Memperkuat Sistem Kekebalan Tubuh

Menurut penelitian di School od Medicine, Cardiff University, Inggris, madu Klanceng dapat merangsang produksi sel-sel kekebalan tubuh. Berkat nutrisi dalam madu, metabolisme dan stamina tubuh akan meningkat.

Madu Klanceng turut andil dalam mendetoks bakteri yang dapat membuat tubuh mudah terserang penyakit. Itulah mengapa madu Klanceng dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menangkal segala penyakit.


4. Menyembuhkan Luka

Madu Klanceng tidak hanya baik dikonsumsi dari dalam tubuh, tetapi bisa dimanfaatkan sebagai obat luar. Madu Klanceng dapat mengobati luka luar, termasuk luka akibat jatuh dan luka bakar.


5. Menurunkan Kolesterol dan Berat Badan

Madu Klanceng sejak dulu memiliki beragam manfaat bagi kesehatan tubuh, termasuk mengecilkan perut buncit.


Madu Klanceng juga dipercaya mampu menurunkan badan. Anda bisa mencampurkan madu dengan air hangat dan perasan lemon atau jeruk nipis. Kedua bahan tersebut ampuh mengecilkan perut secara alami.


Madu Klanceng dan jeruk nipis mampu mendorong pembakaran lemak secara efektif. Selain itu, bahan ini juga dapat melancarkan sistem pencernaan. Sehingga lemak dan sisa makanan tidak terlalu lama mengendap dalam tubuh.


Manfaat Madu Klanceng bagi Kecantikan

Tak hanya bermanfaat bagi kesehatan tubuh, madu Klanceng juga berkhasiat untuk kecantikan, mulai dari kulit, bibir, dan rambut. Anda bisa menjadikan madu alami sebagai masker rutin. Berikut adalah manfaat madu Klanceng bagi kecantikan:


Melembapkan kulit

Mengangkat sel kulit mati

Menghilangkan komedo

Menyamarkan noda bekas jerawat

Menghilangkan flek hitam

Mengecilkan pori-pori wajah

Menghaluskan wajah

Mengobati jerawat

Mencegah penuaan dini dan membuat awet muda

Menyamarkan garis halus atau keriput

Melembapkan bibir

Mengatasi bibir pecah-pecah

Memerahkan bibir

Menguatkan rambut

Membuat rambut lebih berkilau

Menghitamkan rambut

Membasmi kutu rambut

 


Sumber: Health Line

Minggu, 07 Februari 2021


Om Awignam Astu


Di tahun 1489 (isaka 1411) Danghyang Nirartha datang di Bali. Sebelumnya Danghyang Nirartha berada tinggal di Dusun Gading Wani (Jembrana). Saat itu yang berkuasa selaku bandesa di Gading Wani ialah turunan Ki Bandesa Mas (Arya Tan Mundur). Ki Bandesa Mas berguru berkenaan keagamaan dan Dharma Brahmana ke Danghyang Nirartha. Sesudah didwijati Ki Bandesa Mas (Arya Tan Mundur) jalani Dharma Brahmana bertitel Ki Dusun dan selaku nabenya ialah Danghyang Nirartha. Disitu Danghyang Nirartha menginformasikan ke turunan Arya Tan Mundur yang berada di Dusun Gading Wani, bila mengadakan yadnya agar dipuput oleh Ki Dusun (Ki Dusun Macan Gading), begitu selanjutnya sampai anak cucu turunannya supaya yadnya dipuput turunan Ki Bandesa Mas (Ki Dusun).-

Ceritra kehadiran Danghyang Nirartha di Gading Wani ;

Dalam satu saat Dang Hyang Nirartha bersama enam orang putra-putrinya pergi melanjutkan perjalanan ke timur. Lantas mereka datang dalam suatu dusun namanya GADING WANI. Kebenaran saat itu orang-orangdesa terserang penyakit sampar (grubug; Bali). Bendesa (Kepala Dusun) Gading Wani ketika mengenali si pendeta tiba lalu selekasnya jemput di tengah-tengah jalan, duduk bersila menyembah. "Mpu Dang Hyang, kami menyampaikan selamat tiba. Jika si pendeta sudah sudi tiba ke tempat kami yang lagi diterpa penyakit sampar. Tiap hari ada-ada saja beberapa orang kami yang wafat tiba-tiba.Kami minta urip (hidup) dengan hormat. Sudilah sangkanya Mpu Dang Hyang memberi kali obat supaya kami pulih dan pandemi ini raib," harapannya. Begitu ucapnya sambil berlinang-linang air matanya.

Dang Hyang Nirartha terharu dan belas kasihan mendengarkannya. Saat itu juga Ki Bendesa diminta ambil air bersih ditaruh di sangku, periuk atau sibuh. Sesudah dikasih mantram oleh si pendeta, lalu diminta memercikkan ke yang sakit dan meminum. Mpu Dang Hyang dan putra-putrinya dihaturkan pesanggrahan tempat istirahat dan disiapkan sajian berbentuk makanan dan buah-buahan. Orang yang sakit sesudah diperciki dan minum air tirtha dari Mpu Dang Hyang saat itu sehat fit kembali lagi.

Di sore harinya (sandhyakala) si pendeta memerintah beberapa orang menempatkan ganten (kunyahan sirih) beliau itu di empat pelosok pinggir dusun untuk menyingkirkan bhuta saat yang membuat penyakit. Beberapa orang dusun yang dikasih perintah menyembah dan selekasnya berjalan melakukannya. Memang sungguh si pendeta ialah orang yang sakti, saat itu orang dusun bisa menunjukkan dan menyaksikan bayang-bayang bhuta saat itu lari ke dalam laut, ternyata beragam macam. Orang dusun banyak yang turun melihat panorama yang ajaib itu, dan semua bingung pada kesaktian si pendeta.
Mulai saat itu beliau dikasih gelar PEDANDA SAKTI WAWU RAWUH (pendeta sakti yang baru tiba). Yang pintar bahasa Kawi menyebutkan beliau DANG HYANG DWIJENDRA (raja guru agama)

Orang dusun semua ria senang. Masing-masing hari bergilir menghaturkan makanan kehadapan si pendeta dan putra-putrinya dan membikinkan pamereman (rumah) di dusun Wani Tegeh. Keinginan orang orang dusun supaya si pendeta tinggal di situ, tapi si pendeta berkeberatan sebab akan melanjutkan perjalanan ke timur. Selanjutnya Ki Bendesa Gading Wani minta berguru dan mebersih (mediksa) jadi pendeta. Si pendeta sudi luluskan permintaannya supaya ada orangtua pembina agama di situ. Ki Bendesa diajar pengetahuan spiritual dan ketuhanan. Seterusnya dibikin bersih (didiksa) jadi pendeta (Dusun) Gading Wani. Kemudian dikasih satu panugrahan tercantum dalam "Kidung Sebun Bangkung".

Ki Bendesa Gading Wani sesudahnya dikukuhkan jadi pendeta (Dusun) menghaturkan anaknya wanita elok ke Dang Hyang Dwijendra yang namanya Ni Jro Patapan selaku pangguru yoga, yakni sinyal bakti berguru menjadi pelayan Mpu Dang Hyang Dwijendra dalam mengendalikan sesajensesajen berama Ni Berit. Dengan suka hati Dang Hyang Dwijendra menerimanya.
PRASASTI KGP BANDESA MANIK MAS
Ida Swabawa maparhyangan ring Pulaki, nganugrahaken sastra dahat khusus wiaktinia ngaran, Canting Mas, suwer Mas, muah Weda Sulambang Geni, Pasupati Rancana. Taler panugrahan Ida Padanda Danghyang Dwijendra.

Wastu asing ngamong wisastra iki, sapreti Santana sira KGP Bandesa

Manik Mas, amangguh senang saparania amanggih rahayu, tan keneng baya redi sira, tour wredi pomah-omah sira, lan katanan wigraha sira.
Nanging yan ana sakulawarga sira, KGP Bandesa Manik Mas,wruh ring sastra, yan sira tan eling ring kawitan, muah tan rumaksa Aji kadi arep, wastu kita kabeh sawangsana KGP Bandesa Manik Mas, tan amanggih rahayu, tan papegatan gering, tungkas masasanak, nemu duka tibaka, muang kawignan.
Mangkana pawarah hira ri sira, Mpu Manik Mas
Muah ana bisama ring Pura Taman Pule kalih Pura Bokcabe. Katibeng antuk pratisantana Kyai Pangeran Mas, tekanning Brahmana Mas, yan ana saterehe Pangeran Mas tan eling, lipia nyungsung ring Pura Taman Pule, ring Pura Bokcabe, wastu ya kabeh, sagotrane Kyai Bandesa Manik Mas,Brahmana Mas, yan tan manula kaya ling Prasasti iki, tan amnggih sadia rahayu, lungsur kasukan, cendek tuwuh, kalah kawisesan, sambe asanak, tan surud kawignan.
Mangkana sosote Kyai Bandesa tekeng pratisantanannia wekas. Ayua lupa kita kabeh sawerungsun kamung.

Selasa, 19 Januari 2021

Panca Tan Matra Sebagai Inti Dari Semesta

Guss Eka

Dalamdunia disadari sebagai bagian dari semesta atau juga bagian badan Tuhan (panentheism).Dalam Tattwa penciptaan, maka bumi terbentuk dari kehendak Cadu Sakti Saguna Brahman (Prabhu Wibhu Krya Jnana Sakti) yg membentuk purusha (inti hidup) serta juga prakerti (bahan kasar hidup)..Dalam hal ini purusha adalah jiwa suksma sarira dan prakerti adalah badan kasar Panca Maha Butha.




Badan yg ketiga adalah atman atau Brahman itu sendiri yg menjadi inti yg utama..Panca Maha Butha yg terdiri dari akasa,bayu,teja,apah,pertiwi adalah badan kasar manusia tumbuhan hewan dan jga dunia semesta degan persentase yg berbeda beda.Kemudian suksma sarira adalah badan halus roh jiwa  yang dibagi menjadi Citta Budhi Manas Ahamkar.tergntung yg mana berkembang secara benar dan baik.

Pada Panca Maha Butha yg membentuk manusia dan juga ditopang oleh suksma sarira serta juga inti hidupnya yaitu atman, maka dunia semesta (baca:bumi ini) memiliki inti atau sebuah rasa di setiap bagian Panca Maha Butha yang ada.Itu disebut Panca Tan Matra.Panca Tan Matra ini juga lah yang memberikan sensasi serta daya rasa dari indera indera manusia Panca Budhindriya itu.Namun hal itu tidak lepas dari kehendak Nya dari Maya Triguna sebagai Hyang Wenang.

Panca Tan Matra itu sendiri adalah zat inti yg menghidupkan sensasi indriya.Adalah sebagai berikut :


1. Rupa tan matra sbagai inti melihat..
2.Gandha tan matra sbagai inti mencium bau2an..
3.Sabda tan matra inti suara dan jga yg didengar..
4.Sparsa tan matra inti dari sentuhan di kulit..
5. Rasa tan matra di pengecap.


Dalam upanishad sekilas dijelaskan bahwa .Panca Tan Matra sebagai berikut.
“Inti rupa..maka pejamkanlah mata dalam sinar cahaya mentari.dan pejam sampai inti itu masuk dan menghilang..maka yang tertinggal itu adalah rupa Tan Matra..”

“Inti sabda.maka heningkan diri dan derngarkan suara yang ada tutup telinga dan biarkan senyap yg tertinggal adalah inti sabda..”


“Inti bau..maka hirup semua dalam prana dan hembuskan semua itu.maka yang tertinggal itu adalah inti Gandha Tan Matra”


“Inti rasa.maka kecaplah seluruh rasa dan kemudian diamkan dan tenangkan..lalu terdiam sampai lenyap,maka yg masih tertinggal adalah rasa Tan Matra..”


“Inti sentuhan..maka rasakan angin yg berhembusndi kulit.dan menikmati sensasi itu..kmudian biarkan lenyap..maka yg tertinggal itu inti dari sparsa tan matra”(sesuai yg teringat)..

Ini adalah yg menjadi penghubung antara semesta dan juga indriya2 yg ada.Tentu ini juga tergntung dari inti hikmat inti yg memberi hidup Atmaning Loka Samastha yg dapat di tangkap Panca Indriya Buddhi.Karena ini lah seluruh Panca Maha butha mnjadi dapat dirasakan oleh sensoris tubuh mahluk itu sendiri..Sebuah Sensasi berbeda ketika ada yg berkembang degan cukup tinggi pada mahluk2 yg lebih rendah..Namun dlam hal ini idep manusia yg mmbuat perbedaan signifikan akan rahasia semesta itu sendiri.Ketika dalam keadaan panik dan bencana tentunya sensasi dari semesta tetap akan dipahami oleh lebih baik dari mahluk yg lain.Kuasa dari Brhman yang Hyang Wenang.

Ini juga disesuaikan dgn kehendak Hyang Dewata terhadap Maya Guna dari setiap jiwa dan wujud mahluk.Tentunya ketika hanya rajas,tamas yang dibiasakan,maka sensori akan sensitif pada kenikmatan Panca Karmendriya atau malah tidak terasakan inti utama kebenaran yang berasal dari hantaran Panca Tan Matra,materialitas yg membelenggu, semoga di dalam kehidupan keseimbangan dan harmoni dengan semesta serta isinya semakin meningkat.

Minggu, 17 Januari 2021

Membangun Kesadaran Diri Memalui Panca Maha Bhuta

 


Guss Eka - Bagi orang Bali, istilah Panca Maha Bhuta bukanlah 
istilah yang asing. Sejauh ini orang Bali memandang 
Panca Maha Bhuta sebagai lima unsur penyusun alam 
semesta yang terdiri dari:
1.    Pertiwi atau tanah
2.    Apah atau air
3.    Teja atau api
4.    Bayu atau angin
5.    Akasa atau Ether/ruang kosong.

Dalam hal ini saya mencoba untuk memperluas makna dari 
keberadaan Panca Maha Bhuta khususnya dalam diri 
manusia sebagai perwujudan dari mikrokosmos. 
Kesadaran apa yang ditimbulkan serta apa implikasi 
nyata terhadap sikap mental dan prilaku manusia dalam 
menjalani hidupnya sehari-hari. Tanpa bermaksud merendahkan 
pemahaman umum yang berlaku, tulisan ini hanyalah 
merupakan sudut pandang saya semata dalam memberikan 
perluasan makna terhadap topik bahasan. Dengan harapan 
bisa memberikan manfaat nyata kepada yang membaca dan 
bukannya justru menjadi materi perdebatan.

Di dalam ajaran tertentu masyarakat Bali, ada istilah 
“Nguripang Panca Maha Bhuta”, atau bisa diterjemahkan 
secara sederhana berarti menghidupkan lima unsur dalam diri manusia. 
Dan saya mencoba memaknai apa yang dimaksud dengan 
istilah tersebut dari sudut pandang saya pribadi, 
berdasarkan apa yang saya pahami, saya alami dan implikasi 
nyata yang saya rasakan.

Mari kita bahas Panca Maha Bhuta secara satu persatu.

PERTIWI
Pertiwi adalah segala sesuatu yang mewujud, berbentuk, 
bisa diraba/dirasa, kokoh dan nyata. Contohnya adalah 
tanah, batu, kayu, besi dan seluruh benda di sekeliling kita. 
Pertiwi lebih umum disebut sebagai elemen TANAH.


Dalam berjalan, pertiwi adalah hal pertama yang perlu diperhatikan. 
Dimana posisi mobil parkir, posisi pohon, posisi meja, posisi kursi dan lain-lain 
agar tidak bertabrakan satu sama lain. Dengan kata lain, pemahaman pertiwi 
bisa dikatakan menjadi koridor atau dasar dalam melangkah. 
Pertiwi adalah sebuah landasan. Atau dalam ilmu bela diri. 
Pertiwi adalah kuda-kuda. Dan tentu pada taraf awal untuk bisa menjadi 
seorang pendekar adalah memiliki kuda-kuda yang benar dan kokoh 
sehingga tidak mudah dijatuhkan lawan. Dan inilah sebabnya, 
pelajaran pertama dari setiap ilmu beladiri adalah menguatkan kuda-kuda.

Dalam pemberdayaan diri, Pertiwi dalam diri menjadi prinsip dalam 
menjalani hidup. Prinsiplah yang memberi dorongan 
dan menjadi kuda-kuda dalam melangkah. 
Prinsiplah yang menjadi pegangan kala seseorang 
harus bangkit dari sebuah kejatuhan. Prinsiplah adalah sebuah 
koridor atau batasan, yang memberi rasa percaya diri. 
Prinsip adalah konsentrasi energi yang belum terurai menjadi 
sebuah semangat. Dengan kata lain, manusia yang telah menyadari 
keberadaan Pertiwi dalam dirinya dan menghidupkannya,
akan menjalani kehidupan dalam sebuah Prinsip dan dalam sebuah koridor. 
Dalam hal ini tentu prinsip yang diambil adalah prinsip yang 
tidak bertentangan dengan etika moral dan budaya tempat kita hidup.

APAH
Apah adalah kebalikan dari pertiwi yaitu segala sesuatu yang 
lentur, mengalir, fleksibel, luwes, mendinginkan dan 
tidak memiliki bentuk yang kokoh. 
Secara nyata wujud Apah adalah elemen AIR.

Pada ulasan mengenai pertiwi, telah dijelaskan mengenai prinsip. Namun pertiwi/prinsip saja tidaklah cukup. Karena memegang prinsip yang terlalu kuat membuat seseorang menjadi kaku dalam bersikap,
 arogan dan mau menang sendiri. Dan ini cenderung akan 
menimbulkan benturan satu dengan yang lain. 
Untuk meredam ini, perlu adanya kelenturan/keluwesan. 
Maka dari itu unsur Apah/air harus diaktifkan.

Sifat air adalah merekatkan pertiwi. Sebagai contoh, 
tanah atau pasir jika disiram dengan air akan menyatu dan 
mengeras, menggumpal menjadi satu kesatuan. Disamping itu,
air mudah meresap kemana-mana. Pengaktifan Apah dalam diri 
akan membuat pribadi seseorang menjadi luwes, terbuka, 
mau menerima pendapat dan membuat seseorang mudah bergaul 
ke semua kalangan sehingga punya banyak teman. 
Dengan demikian, sesuai dengan sifat air, ia mampu 
membuat semua orang berkumpul dan menyatu dan membentuk sebuah kekuatan.

Ibarat dalam ilmu beladiri, setelah kuda-kuda sempurna,
dilanjutkan dengan gerakan-gerakan tangan yang luwes dan indah. 
Sehingga gerakan kuda-kuda yang kokoh ketika dipadu dengan gerakan 
tangan yang luwes menghasilkan sebuah gerakan atau jurus yang indah untuk dipandang.

TEJA
Unsur/bhuta ketiga adalah Teja. Teja sendiri adalah elemen API. 
Dan api membawa dua hal yaitu panas dan cahaya.

Setelah memiliki prinsip dan keluwesan dalam bersikap sebagai 
reaksi atas aktifnya unsur tanah dan air, maka selanjutnya adalah elemen api. 
Satu hal yang disadari secara umum adalah api muncul karena ada materi yang terbakar, sehingga memunculkan panas dan cahaya. Materi sendiri adalah pertiwi, bagai kayu bakar pada api unggun. Sebagaimana ulasan sebelumnya, pertiwi adalah prinsip, konsentrasi dari energi yang belum diuraikan menjadi semangat, gairah (aspek panas dari api) dan keceriaan, pengetahuan, wawasan  serta rasa percaya diri (aspek cahaya).

Tubuh bisa hidup dan merasakan segala sesuatu karena adanya panas tubuh. 
Jika tubuh kehilangan panasnya, maka syaraf akan berhenti berfungsi 
dan tubuh tidak bisa merasakan apa-apa. Demikian juga halnya dengan Teja dalam kehidupan. Seseorang yang elemen Api/Tejanya aktif, 
akan menjalani hidup dengan penuh gairah, semangat, 
antusiame dan keceriaan sebagai refleksi dari aspek panas. 
Sedangkan pengetahuan dan wawasan serta rasa percaya diri 
merupakan refleksi dari aspek cahaya karena cahaya membuat 
seseorang bisa melihat kemana harus melangkah. 
Hal ini membuat seseorang bisa menikmati hidup dan selalu berpikir positif. 
Gairah, semangat, keceriaan dan rasa percaya diri serta wawasan 
dalam menjalani kehidupan (Teja) baru akan muncul setelah 
seseorang memiliki prinsip hidup (Pertiwi). Sehingga Teja sangat erat berhubungan dengan Pertiwi.

BAYU
Bhuta atau unsur keempat adalah Bayu. Bayu adalah sesuatu yang 
menaungi atau melingkupi. Seperti Bumi yang dinaungi atau dilingkupi atmosfir.
Dan isi dari atmosfir adalah Angin. 
Sehingga secara sederhana Bayu diartikan ANGIN.

Namun dalam konteks perusahaan, Bayu adalah sebuah sistem kerja/operasional. Dalam konteks negara, Bayu adalah sistem tata negara. Semua harus tunduk pada sistem. Sistem yang baik menghasilkan atmosfir kerja atau atmosfir hidup yang baik dan nyaman pula.

Keberadaan unsur apah pada diri seseorang, membuat seseorang menyadari keberadaan akan orang-orang disekelilingnya yang membentuk sebuah sistem, 
baik itu sistem kemasyarakatan dimana dia tinggal, sistem kerja di tempat dia bekerja. Seseorang akan sadar bahwa dia tidak bisa hidup sendiri dan terikat oleh sistem dimanapun dia berada. Hal ini akan memunculkan rasa patuh dan rasa hormat serta harga diri sebagai bagian dari sebuah sistem. Dalam tingkat negara, 
inilah nasionalisme dan harga diri sebagai bagian dari suatu bangsa. Dalam perusahaan, Bayu adalah kepatuhan, rasa hormat dan loyalitas pada system. 
Memiliki “sense of belonging”. Ini membuat seseorang menjadi orang yang dapat dipercaya. Inilah unsur BAYU dalam diri seseorang. Unsur Bayu berhubungan erat dengan unsur Apah.

Unsur Bayu dikatakan hidup pada diri seorang ketika  
memiliki harga diri sekaligus rasa hormat,
kepatuhan dan loyalitas kepada sistem dan menjadi 
seseorang yang dapat dipercaya.

AKASA
Bhuta kelima atau terakhir adalah Akasa atau Ether. 
Akasa sendiri bukanlah sebuah unsur, melainkan sebuah RUANG 
(ruang kosong). Didalam ruang inilah seluruh unsur berkolaborasi, 
bersinergi dan bersatu padu. Akasa adalah sebuah “Kuali” 
dimana seluruh bumbu dicampu dan diolah.

Sebagai mahluk, akasa adalah alam tempat kita hidup. 
Sebagai warga Negara, akasa adalah Negara tempat kita tinggal. 
Sebagai karyawan, Akasa adalah tempat kita bekerja. 
Bisa dikatakan Akasa adalah induk dari segala sistem yang ada.

Seseorang yang Akasa dalam dirinya telah dibangkitkan, 
akan sadar bahwa dirinya adalah bagian dari sistem sekaligus 
dia pulalah yang menggerakkan sistem. Dia sadar bahwa sistem akan 
ikut bergerak jika dia bergerak. Dengan kata lain, dia adalah sistem itu sendiri. 
Disini telah terjadi kemanunggalan antara diri pribadi dengan sistem. 
Seseorang sadar memiliki peran dalam menggerakan sistem. 
Karena kesadaran ini, seseorang akan berusaha untuk memainkan dengan sebaik-baiknya, apapun perannya. Karena setiap peran yang dimainkan dengan baik, akan memberikan dampak yang baik untuk sistem, yang adalah dirinya sendiri.

Di tatanan perusahaan, karyawan sadar bahwa perusahaan bergerak 
karena karyawan yang bergerak. Karena sadar dia punya peran dan mampu menggerakkan sistem, maka setiap karyawan berusaha berbuat yang terbaik untuk sistem, yang terbentuk dan dibangun oleh mereka sendiri.

Pada diri seseorang, Akasa yang aktif membuat seseorang sadar mempunyai peran dalam kehidupan. Setiap tindakan yang dilakukan akan berpengaruh terhadap kehidupan, sehingga seseorang akan berusaha berbuat yang terbaik untuk kehidupan.

Jadi menurut saya, jika seseorang mampu menghidupkan 
Panca Maha Bhuta dalam dirinya akan menyadari keberadaan dirinya adalah 
Akasa (wadah/ruang), dimana empat unsur alam semesta yaitu Pertiwi (Tanah), 
Apah (Air), Teja (Api) dan Bayu (Angin) berkolaborasi dan bersinergi. Seseorang akan hidup dengan sebuah prinsip, pantang menyerah (Pertiwi) namun tetap fleksibel dan luwes dalam berinteraksi (Apah), memiliki semangat, gairah serta wawasan yang luas (Teja), memiliki rasa hormat sekaligus harga diri /”Man of honor and respect” (Bayu). Dialah manusia sejati, yang menyadari dirinya tersusun dari 
Panca Maha Bhuta, mampu menguasai dan mengendalikan 
Panca Maha Bhuta. Dialah manusia yang pantas disebut sebagai 
AVATAR, si penguasa dan pengendali empat unsur alam semesta. (GE)

Mantan Bupati Tabanan Di Tahan KPK

Mantan Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti terjerat kasus dugaan korupsi pengurusan Dana Insentif Daerah (DID), Tabanan, Bali tahun 2018 b...

Adzense