
Kamis, 24 Maret 2022
Mantan Bupati Tabanan Di Tahan KPK

Sabtu, 19 Februari 2022
Pura Melanting
PURA PULAKI
Pura Pulaki terletak di pesisir pantai Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgrak, di tepi jalan Singaraja- Gilimanuk sekitar 53,5 Km dari kota Singaraja. Kondisi jalan cukup baik. Fauna pendukung terkenal yang sangat menarik ialah kelompok kera dan jalak putih.Pura Pulaki terletak di lereng pegunungan berbatu dan bersemak belukar.
Kisah berdirinya Pura Pulaki tidak terlepas dari sejarah perjalanan Dang Hyang Nirartha dari Blambangan (Jawa Timur) ke Dalem Gelgel (Bali), pada masa pemerintahan Dalem Cri Waturenggong (1460-1550 M). Pura Pulaki merupakan Pura Kahyangan Jagat yang dipuja (disungsung) oleh seluruh umat Hindu di Bali. Sejak pemugaran besar-besaran yang dimulai tahun 1984, kini Pura Pulaki sudah tampak megah dan luas serta memungkinkan umat Hindu melakukan persembahyangan bersama dengan leluasa. Pura Pulaki sebenarnya merupakan pusat dari serangkaian pura sekitarnya, yaitu Pura Kerta Kawat pada Km 51 dari Singaraja (sekitar 750 M di sebelah selatan jalan raya), Pura Melanting, Pura Pabean, dan Pura Pemuteran. Urut- urutan upacara yang diadakan pada piodalan yang jatuh pada Purnamaning Kapat dimulai dari Pura Pulaki, kemudian Pura Melanting dan Kerta Kawat, lalu di Pura Pemutaran dan terakhir di Pura Pabean. Letaknya yang strategis di tepi jalan raya sehingga tidaklah mengherankan sangat banyak mendapat kunjungan dari wisatawan asing ataupun domestik. Sudah terdapat tempat yang sangat baik untuk beristirahat dan tempat parkir yang sangat luas.Di kawasan Pura Pulaki, di sekitar Pura Melanting, sekitar 1987 ditemukan beberapa alat perkakas yang dibuat dari batu , antara lain: berbentuk batu picisan, berbentuk kapak dan alat-alat dari batu lainnya. Berdasarkan hal itu dan jika dilihat dari tata letak maupun struktur pura, maka dapat diduga latar belakang pendirian Pura Pulaki awalnya berkaitaan dengan sarana pemujaan masyarakat prasejarah yang berbentuk bangunan berundak.
Di sisi lain, dilihat dari letak Pura Pulaki yang terletak di Teluk Pulaki dan memiliki banyak sumber mata air tawar, maka kawasan ini diduga sudah didatangi manusia sejak berabad-abad yang lalu. Kawasan Pulaki menjadi cukup ramai dikunjungi oleh perahu dagang yang memerlukan air sebagai bahan yang dibutuhkan dalam pelayaran menuju ke Jawa maupun ke Maluku. Bahkan kemungkinannya pada waktu itu sudah terjadi perdagangan dalam bentuk barter. Barang yang kemungkinan dihasilkan dari kawasan Pulaki adalah gula dari nira lontar. Ini didasarkan bukti dengan ditemukannya tananam lontar di sepanjang pantai dari Gilimanuk ke timur, termasuk Pulaki.
Dari uraian itu, dapat diduga Pulaki sudah ada sejak zaman prasejarah, baik berhubungan dengan tempat suci, maupun sebagai tempat aktivitas lainnya. Hal ini berlanjut sampai dengan peristiwa penyerangan Bali oleh Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam buku ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang disusun Ketut Ginarsa tertulis bahwa pasukan Gajah Mada turun di Jembrana lalu berbaris menuju desa-desa pedalaman, seperti Pegametan, Pulaki, dan Wangaya.
Pulaki juga pernah dijadikan pusat pengembangan Agama Hindu sekte Waisnawa sekitar 1380 Masehi seperti tertera dalam buku “Bhuwana Tatwa Maharesi Markadeya” yang disusun Ketut Ginarsa. Kisah tentang Pulaki terdapat juga dalam buku “Dwijendra Tatwa” yang ditulis I Gusti Bagus Sugriwa. Di situ terdapat uraian seperti: “Baiklah adikku, diam di sini saja, bersama-sama dengan putri kita Ni Swabawa. Ia sudah suci menjadi Batara Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Batara Dalem Ketut yang akan dijunjung dan disembah orang-orang di sini yang akan kanda pralinakan agar tak kelihatan oleh manusia biasa. Semua menjadi orang halus. Daerah desa ini kemudian bernama Pulaki”.
Keberadaan Pura Pulaki sebagai suatu tempat suci sudah ada sejak zaman prasejarah dan menghilang setelah kehadiran Dang Hyang Nirartha dengan peristiwa dipralinakannya Pura Pulaki tanpa penghuni secara sekala berlangsung cukup lama. Jadi, Pura Pulaki menghilang dari penglihatan sekala dan daerah ini praktis kosong sejak tahun 1489 sampai sekitar tahun 1920 atau selama sekitar 431 tahun. Namun sebelum itu, sejak zaman prasejarah sampai dengan kehadiran Ida Betara Dang Hyang Nirarta 1489, Pura Pulaki masih tetap sebagai tempat pemujaan, baik yang dilaksanakan orang prasejarah, orang Baliaga maupun Sekte Waisnawa yang dikembangkan Rsi Markandeya dan orang pengikut Tri Sakti dengan simbol tiga kuntum bunga teratai yang berwarna merah, hitam, dan putih yang dipetik Dang Hyang Nirarta dari kolam yang diperoleh dalam perut naga di Pulaki.
Suatu daerah yang tak dihuni selama ini, sudah pasti menjadi hutan belantara dan hanya dihuni binatang buas, babi hutan, hariamau, banteng dan lain-lainnya. Kendati begitu, menurut Simba, masyarakat Desa Kalisada dan beberapa desa di sekitarnya masih tetap setia ngaturang bhakti kepada Betara di Pulaki dengan naik perahu dari pantai Kalisada. Namun saat itu, Pura itu sudah tak ada lagi, sehingga pemujaannya dilakukan pada tumpukan batu yang ada di sekitar Pura Pulaki yang lokasinya berada pada tempat sekarang ini.
Untuk itu, Simba menduga Pura Pulaki sebenarnya berada di dalam hutan, bukan di tempat yang sekarang ini. Lokasi pura yang sekarang diperkirakan sebagai tempat pengayatan (pemujaan dari jarak jauh) karena warga tak berani masuk ke dalam hutan mengingat tempat ini sudah dihuni binatang buas, sehingga tak mungkin ada orang yang berani masuk ke pedalaman.
Tahun 1920 Pulaki mulai dibuka yang ditandai dengan disewakannya tempat ini oleh pemerintah Kolonial Belanda kepada orang Cina bernama Ang Tek What. Kawasan ini kemudian dikembalikan sekitar tahun 1950 yang selanjutnya dilakukan pemugaran-pemugaran terhadap tempat suci di kawasan itu.Pemugaran Pura Pulaki dan pesanakannya dilakukan setelah tahun 1950.
Menurut Simba, Pura Pulaki dan pesanakan, seperti Pura Pabean, Pura Kerta Kawat, Pura Melanting, Pura Belatung, Pura Puncak Manik, dan Pura Pemuteran tidak bisa dipisahkan. Dilihat dari lokasi sejumlah pura tersebut dan sesuai konsep Hindu Bali itu termasuk konsep sapta loka, yakni konsep tentang sapta patala atau 7 lapisan alam semesta.
Jadi, Pura Pulaki yang dibangun atas dasar perpaduan antara daerah pegunungan dan laut atau teluk sehingga tata letak, struktur dan lingkungan Pura Pulaki ini ditemukan unsur segara dan gunung yang menyatu.
Untuk sekadar tambahan, bahwa dalam sejarah Pura Pulaki ditanyakan bahwa Dang Hyang Nirartha datang ke Bali memiliki tujuan antara lain melantik Dalem Watu Renggong yang memerintah di Bali tahun 1460-1550 M. Perjalanan beliau ke Klungkung dilakukan dari Desa Gading Wani. Anak-anaknya ditinggalkan di Desa Gading Wani. Beliau berjanji akan segera kembali setelah acara di Klungkung berakhir. Tetapi ternyata, Dang Hyang Nirartha tidak datang dalam jangka waktu yang lama. Putri beliau, Ida Ayu Swabhawa akhirnya sangat gusar. Penduduk desa-desa di sekitarnya yang berjumlah 8.000 orang dikutuk menjadi wong samar. Semua menjadi wong samar termasuk dirinya. Ida Ayu Swabhawa dengan ribuan pengiringnya tinggal di bawah pohon-pohon besar.Pohon-pohon itu memiliki sulur-sulur tempat bergelayut (ngelanting dalam Bahasa Bali).Di areal pohon itulah Ida Ayu Swabhawa dibuatkan pelinggih yang disebut Pura Melanting.
Beliau dengan wong samar itulah yang menjadi penguasa pasar. Barang siapa yang melakukan transaksi jual-beli pagi tidak sesuai dengan etika moral dharma akan diganggu hidupnya oleh Dewi Melanting dengan anak buahnya. Kalau kegiatan di pasar mengikuti dharma maka Dewi Melanting itulah yang akan melindunginya.
Di samping distanakan di Pura Melanting ada juga stana beliau yang disebut Pura Tedung Jagat. Pura inilah yang kemudian disebut Pura Pulaki dan juga distanakan roh suci Dang Hyang Nirarhta. Karena itu, Pura Melanting dan Pura Pulaki merupakan lambang predana-
purusa sebagai tempat pemujaan untuk memohon kemakmuran ekonomi. Pura Pulaki disungsung subak-subak di sekitar Pulaki. Selain itu, Pura Pabean merupakan tempat pemujaan bagi para nelayan dan para pedagang antarpulau. Mungkin identik dengan Pura Ratu Subandar di Pura Batur dan Besakih. Pura Kertha Kawat juga termasuk kompleks Pura Pulaki sebagai stana Tuhan untuk memohon tegaknya moral etika dan hukuman dalam berbisnis. Di pura ini disebut stana Bhatara Kertaningjagat. Pura Gunung Gondol terletak 3 Km dari pusat Pura Pulaki sebagai stana untuk memuja Dewa Mentang Yudha yaitu Tuhan dalam fungsinya sebagai pelindung dari segala bahaya seperti Dewa Ganesha.
(Dinas Kebudayaan Singaraja)
Senin, 29 November 2021
Manfaat Madu Bagi Kesehatan Manusia
Lebah Trigona / Klanceng / Kela merupakan salah satu jenis lebah madu tanpa sengat yang terdapat di Indonesia. Lebah Trigona hidup berkoloni pada celah pohon, batang bambu, pilar rumah atau celah-celah batu,atau tempat lainnya.
Banyaknya beredar Madu palsu/madu oplosan/madu sirupan atau bahkan sampai ke madu sintetis perlu penjelesan dan edukasi yang benar kepada konsumen yang mana madu murni,yang mana madu asli,yang mana madu palsu.
Mengingat kepercayaan publik terhadap madu saat ini sangat kritis.
Madu tidak perlu lagi di iklanin berlebihan karena memang sudah demikian baik dan bermanfaat secara intrinsik.
Karakter madu Trigona memang agak encer, rasa manis asam seperti nano-nano, terjamin kemurniannya tanpa campuran apapun. setiap kali masa panen, rasa, warna, kekentalan selalu berubah-ubah tergantung ketersediaan vegetasi yang ada.
Manfaat madu Trigona atau klanceng sangat banyak untuk pengobatan. Ukuran lebah klanceng sangat kecil tetapi kualitas madu yang dihasilkan lebah klanceng sangat bagus. Kandungan fruktosa dan glukosa lebah klanceng lebih baik dibanding madu lebah lain.
Berikut ini adalah manfaat/khasiat madu Trigona/Kela
1. Mengobati penyakit Diabetes
2. Mengobati penyakit maag akut
3. Meningkatkan daya tahan/sistem kekebalan tubuh
4. Mencegah Stroke
5. Memperlancar peredaran darah
6. Membantu pembentukan darah
7. Meningkatkan hormon
8. Memperkuat fungsi otak dan jantung
9. Memperbaiki sel tubuh yang rusak
10. Dapat digunakan sebagai pelembab kulit
11. Mengembalikan kebugaran tubuh
12. Mengendurkan bagian syaraf yang tegang
13. Menghilangkan rasa letih
14. Membunuh bakteri
15. Meningkatkan kecerdasan anak
16. Dapat dikonsumsi penderita diabetes melitus
17. Membantu masa penyembuhan pasca operasi
18. Mencegah kanker/anti kanker,
.
.
.
.
081934338855
Senin, 15 November 2021
Panca Srada Dalam Agama Hindu
Gemuh Bali - Umat Hindu Percaya dengan adanya lima keyakinan dalam beragama yang di sebut dengan Panca Srada
Umat Hindu berpegang teguh pada dasar keyakinan tersebut dalam menjalankan agamanya. Dasar inilah yang selanjutnya menjadikan semua umat yang beragama Hindu percaya dan sangat meyakini keberadaan Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa. Dasar keyakinan ini terdiri dari lima aspek yang disebut dengan Panca Sradha. Kelima aspek tersebut antara lain:
1Keyakinan terhadap Brahman/Widhi Tattwa.
Ajaran pertama ini berfokus pada keyakinan pada Brahman atau Tuhan. Ada banyak sebutan nama Tuhan dalam agama Hindu, seperti Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Brahman. Ini artinya, setiap umat Hindu meyakini dengan benar bahwa Tuhan itu ada, Maha Esa, Maha Kuasa, Maha segalanya.
2.Keyakinan terhadap Atman/Atma Tattwa.
Kedua adalah Atman Tattwa atau lebih kerap disebut dengan Roh Suci. Umat Hindu meyakini pula bahwa keberadaan Jiwatman membuat manusia bisa hidup. Atman diyakini memiliki sifat kekal dan sempurna.
3.Keyakinan terhadap Karmaphala/Karmaphala Tattwa.
Keyakinan dasar ketiga dalam ajaran agama Hindu adalah keberadaan dari Karmaphala. Kata Karma sendiri memiliki arti perilaku atau perbuatan, sementara phala artinya hasil yang didapat. Jadi, jika dijelaskan secara singkat, Karmaphala ini artinya hasil yang didapat dari perbuatan yang dilakukan.
Sederhananya, umat Hindu sangat percaya dengan adanya hukum sebab akibat dalam kehidupan sehari-hari. Karmaphala sendiri dibedakan menjadi tiga bagian waktu, yaitu masa kini atau sekarang, masa nanti atau hari esok, dan masa depan.
4.Keyakinan Terhadap Samsara/Samsara Tattwa.
Ajaran keyakinan keempat dalam Panca Sradha adalah Samsara Tattwa atau percaya dengan adanya reinkarnasi, penjelmaan kembali atau kelahiran kembali, dalam agama Hindu ini dikenal dengan istilah Punarbawa yang artinya kelahiran berulang-ulang. Umat Hindu percaya setiap ruh akan kembali lagi kepada Tuhan dan harus dalam keadaan yang suci.
5.Keyakinan Terhadap Moksa/Moksa Tattwa.
Keyakinan terakhir adalah meyakini dan percaya dengan Moksha, yaitu bersatunya Brahman dengan Atman. Bukan tanpa alasan, tujuan tertinggi dalam agama Hindu adalah bisa mencapai Jagadhita dan Moksa.
Secara sederhana, masyarakat Hindu percaya bahwa adanya Panca Sradha akan membuat mereka lebih mengetahui mana hal yang baik dan buruk. Apa yang dilakukan saat ini akan memberikan hasil yang setimpal nantinya, seperti keyakinan Karmaphala.
Minggu, 24 Oktober 2021
Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan Berbagi Senyum Dengan 200 Anak
Bangli,24 Oktober 2021.
Gemuh Bali - Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan.
Pembagian paket sembako,uang tunai dan alat-alat tulis untuk 200 anak asuh Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan di seputaran kabupaten Bangli.
Kegiatan tersebut dilakukan di halaman sekolah SMP Negeri 2 Tembuku,Bangli.
Dalam kegiatan tersebut di dukung oleh Polres Bangli,Kapolsek Tembuku,,Dinas Sosial,pihak sekolah dan instansi lainnya.
Dana yang di keluarkan oleh Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan dalam kegiatan tersebut kurang lebih Rp,125.000.000
Selain paket sembako,uang tunai,alat-alat sekolah untuk anak-anak kurang mampu juga di serahkan 100 paket sembako untuk lansia.
Kamis, 21 Oktober 2021
Pergelangan Kaki Hampir Putus Terkena Pisau Mesin Rumput
Gemuh Bali -Bapak Made Budiasa(1977) pergelangan kakinya hampir putus dikarenakan terkena pisau mesin rumput.Kejadian tersebut terjadi sekitar tujuh bulan lalu.Pada waktu itu biaya operasi dibantu oleh sebuah yayasan.Dan bantuan dari desa/dinas terkait.
Dan saat ini Bapak Made hampir setiap minggunya kontrol ke RS.
Bapak Made memiliki 4 orang anak.Saat ini Bapak Made sudah tidak bisa bekerja lagi,Ni Wayan Sekar,istri dari Pak Made yang menjadi tulang punggung keluarga saat ini sebagai buruh serabutan atau mencari sayur untuk dijual.
Pak Made dan keluarga menempati kebun orang dikaki Gunung Batukaru daerah Pujungan,Tabanan,Bali
Kamis, 14 Oktober 2021
Bedah Rumah Yayasan Relawan Bali
Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan
Kegiatan awal proses bantuan bedah rumah dari Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan untuk keluarga Kadek Yoni Suantari yang beralamat di Br Dinas Mekarsari,Desa Pujungan,Pupuan.
Dalam kegiatan tersebut di dukung dan dihadiri oleh pihak desa Pujungan yang diwakili oleh Kepala Wilayah Br Mekarsari Bapak I Nyoman Budiarta,selain itu juga dihadiri oleh Babinkantibmas Desa Pupuan Aipda I Kadek Aditya S,Serta Dan dari Relawan Bali.
Kegiatan tersebut adalah murni untuk kemanusiaan dan sebagai bentuk sinergitas bersama pemerintah Tabanan khususnya Bali pada umumnya.
Rabu, 15 September 2021
Tat Wan Asi
Tat Twam Asi berasal dari kata Tat yang artinya Ia, Twam yang artinya kamu, dan Asi artinya adalah. Jadi, Tat Twam Asi adalah ia adalah kamu.
Tat Twam Asi mengajarkan kita memiliki jiwa sosial dan keinginan untuk menolong orang lain, karena menolong olang lain sama dengan menolong diri sendiri.
Dengan mengenal dan memahami ajaran Tat Twam Asi, manusia dapat merasakan berat dan ringan hidup dan kehidupan di dunia ini. Pada hidup ini hendaknya selalu saling tolong menolong, merasa senasib dan sepenanggungan.
Tat Twam Asi, selain mengajarkan tentang jiwa kesusilaan, juga merupada dasar Susila Hindu. Susila merupakan tingkah laku yang baik dan mulia selaras dengan ketentuan Dharma.
Paket Sembako untuk Anak yatim piatu yang sedang sakit
Terima kasih Donatur.
#MamudjaSarwaPrani
Rabu, 18 Agustus 2021
Pendakian Gunung Abang ditemani sebuah cahaya.
Rabu, 21 Juli 2021
Dhana Punia Menurut Hindu
Gemuh Bali - Tapah param krtayuge tretyam jnananucyate,Dvapara yajnamitya curddanam ekam kalau Yuge.
Artinya :
Pelaksanaan tapa merupakan kewajiban utama di jaman Satya yuga, Jnana pada jaman treta yuga, Yajna pada masa Dwapara Yuga dan dhanam pada masa Kali yuga
Secara umum dalam ajaran Hindu, ada 3 jenis dhana punia
- Artha dana pemberian berupa harta benda baik berupa makanan, minuman, pakaian, rumah, tanah, dan lain-lain.
- Abhaya dana pemberian berupa perlindungan, rasa aman dan ketertiban kepada orang lain atau masyarakat.
- Brahma dana pemberian berupa ilmu pengetahuan (Jnana). baik itu berupa ilmu pengetahuan teknologi, maupun ilmu pengetahuan Agama.
Jumat, 11 Juni 2021
Sinergitas Yayasan Relawan Bali Bersama Dinsos Tabanan
Tabanan. Jumat,11 Juni 2021
Kegiatan Yayasan Relawan Bali kordinator Kabupaten Tabanan melakukan penyerahan bantuan 2 korsi roda untuk warga yang sakit di wilayah Tabanan bersama Ketua Kordinator Kesejahteraan Sosial Tabanan (K3S) Ny Rai Wahyuni Sanjaya bersama staf dan didampingi Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tabanan Bpk I Nyoman Gede Gunawan beserta jajarannya.
Dalam kegiatan tersebut korsi roda diberikan kepada warga yang bernama I Nengah Sumanda yang mengalami sakit tidak bisa berjalan di wilayah dajan Peken,Tabanan dan I Made Sadra,di wilayah Subamia,Bapak Made Sadra yang sela ini mengalami sakit stroek.
Dari pihak keluarga sangat berterima kasih atas kegiatan tersebut karena sudah bisa membantu sedikit meringankan beban kehidupan mereka.Begitu Pula Ny Rai Wahyuni Sanjaya dan Bapak Kadis Sosial Tabanan berharap agar kegiatan seperti ini bisa dilakukan secara berkala dengan bersinergi dengan Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan.
Rabu, 26 Mei 2021
Yayasan Relawan Bali Bantu Bedah Rumah Warga Kurang Mampu
Pupuan,Rabu,26 Mei 2021
Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan
Kegiatan awal proses bantuan bedah rumah dari Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan untuk keluarga Komang Ariana yang beralamat di Br Dinas Tibudalem,Desa Pujungan,Pupuan.
Kegiatan tersebut di dukung dan dihadiri oleh pihak desa Pujungan yang diwakili oleh Kepala Wilayah Tibu Dalem I Kadek Dana Dwi Swapraja,SH yang pada kesempatan tersebut Kepala Desa Pujungan berhalangan untuk hadir dikarenakan ada kepentingan lain yang tidak bisa beliau tinggalkan,selain itu juga dihadiri oleh Babinkantibmas Desa Pupuan Aipda I Kadek Aditya S,Serta dari Pihak TKSK kecamatan I Made Riskawan.Dan beberapa dari relawan.
Pihak keluarga dari Komang Ariana mengucapkan banyak - banyak terima kasih kepada Admin Yayasan serta semua pihak yang mendukung kegiatan dan bantuan tersebut termasuk kepada donatur dan para relawan Relawan Bali.
SiCepat Ekspres
Kamis, 08 April 2021
Bantuan Kamar Mandi Dari Yayasan Relawan Bali
Yayasan Relawan Bali Kediri,5 April 2021.
Pada kesempatan ini bantuan dari Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan berupa sebuah bangunan kamar mandi-WC diberikan kepada keluarga I Ketut Madya yang beralamat di br Jagasatru,Kediri,Tabanan.
Keluarga I Ketut Madya dari sejak awal belum memiliki kamar mandi karena situasi ekonomi yang serba kekurangan.
Maka dari itu admin Yayasan Relawan Bali - - Andy Karyasa Wayan bersama admin bersedia membantu membuatkan kamar mandi.Dari sejak awal proses bantuan kamar mandi tersebut sudah didukung oleh pihak Desa dan dari Pihak Koramil Kediri,
Keluarga I Ketut Madya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan tersebut kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini.
Guss Eka - MamudjaSarwaPrani
Selasa, 09 Maret 2021
Catur Bendana Dharma Ring Sang Sulinggih
Gemuh Bali -Patut kawikanin sareng sami, sang maraga sulinggih ring agama Hindu ring Bali kaiket antuk sesana sajeroning kahuripane. Wenten catur paiketan sane patut pageh-pagehen keamongin olih sang sulinggih sane kebawos “Catur Bandana Dharma”, inggih punika :
1. Amari Sesana, teges ipun, sang maraga sulinggih patut ngentosin sesana miwah swadharmaning walaka antuk sesana miwah swadharmaning kasulinggihan (Siva Sesana, Wrti Sesana, Rsi Sesana). Nenten patut malih sang sampun madiksa ngambil pakaryan sang walaka, mekadi “adual-atuku” utawi jual-beli, miwah saluwiring sesana sane kemargyang olih sang durung madwijati. Yan durung andel ngamong sesana janten ngawinang kawon.
2. Amari Wesa, teges ipun ngentosin ceciren pengadegan mekadi nenten malih dados macukur, yening medal setata makta tateken, miwah sane sewosan.
3. Amari Aran, teges ipun magentos biseka utawi pesengan sang sampun madwijati, nenten malih nganggen pesengan sane walaka, nanging sampun kagentosin antukpanugrahan biseka utawi paica Nabe inggih punika : Walakalanang …………………………………………. abiseka nama …………………………………., Walaka Istri abiseka nama ………………………….. Ida Pedanda Istri ………………………….
4. Umulahaken dharma mwang kaguru susrusan, teges ipun stata ngelaksanayang ajaran agama (satyam, sivam, sundaram), pageh tur tegep ring separititah Nabe. Tan pisan patut pacang nungkasin Nabe.
Punika awinan sadurung resmi dados wiku patut katureksanin rihin olih Calon Nabe. Dwaning abot pisan pacang ngamong sesana punika, pinunas tityang ring pasemetonan utawi sisya, masyarakat mangdane sareng ngeremba sang pedanda anyar mangdene prasida stata ngamong kasucian miwah sesana. Dwaning yan parilaksana wikune kapungkur simpang ring sesana, boya wantah pacang nyepungin linggih nabe miwah anggan idane, nanging teler pacang ngawinan penilaian nenten becik ring agama Hindu druwene ring Bali.
Selasa, 16 Februari 2021
Manfaat Madu Kekela
Gemuh Bali Bee Farm-Manfaat Madu Kela/Klanceng bagi Kesehatan
1. Mencegah Diabetes
Madu Klanceng dapat mencegah diabetes. Penyakit yang satu ini disebabkan kadar gula darah yang terlalu tinggi lantaran banyak mengonsumsi makanan atau minuman manis. Oleh karena itu, madu Klanceng adalah solusinya.
2. Mencegah Kanker dan menyehatkan jantung
Madu Klanceng mengandung antioksidan tinggi yang dapat menangkal pertumbuhan sel-sel jahat dalam tubuh, termasuk kanker.
Tak hanya bermanfaat untuk mencegah kanker, madu Klanceng juga bisa meningkatkan kesehatan jantung berkat kandungan antioksidan dan flavonoid. Madu Klanceng juga dapat membantu mencegah pembentukan gumpalan darah, sehingga mengurangi risiko stroke dan penyakit jantung.
3. Memperkuat Sistem Kekebalan Tubuh
Menurut penelitian di School od Medicine, Cardiff University, Inggris, madu Klanceng dapat merangsang produksi sel-sel kekebalan tubuh. Berkat nutrisi dalam madu, metabolisme dan stamina tubuh akan meningkat.
Madu Klanceng turut andil dalam mendetoks bakteri yang dapat membuat tubuh mudah terserang penyakit. Itulah mengapa madu Klanceng dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menangkal segala penyakit.
4. Menyembuhkan Luka
Madu Klanceng tidak hanya baik dikonsumsi dari dalam tubuh, tetapi bisa dimanfaatkan sebagai obat luar. Madu Klanceng dapat mengobati luka luar, termasuk luka akibat jatuh dan luka bakar.
5. Menurunkan Kolesterol dan Berat Badan
Madu Klanceng sejak dulu memiliki beragam manfaat bagi kesehatan tubuh, termasuk mengecilkan perut buncit.
Madu Klanceng juga dipercaya mampu menurunkan badan. Anda bisa mencampurkan madu dengan air hangat dan perasan lemon atau jeruk nipis. Kedua bahan tersebut ampuh mengecilkan perut secara alami.
Madu Klanceng dan jeruk nipis mampu mendorong pembakaran lemak secara efektif. Selain itu, bahan ini juga dapat melancarkan sistem pencernaan. Sehingga lemak dan sisa makanan tidak terlalu lama mengendap dalam tubuh.
Manfaat Madu Klanceng bagi Kecantikan
Tak hanya bermanfaat bagi kesehatan tubuh, madu Klanceng juga berkhasiat untuk kecantikan, mulai dari kulit, bibir, dan rambut. Anda bisa menjadikan madu alami sebagai masker rutin. Berikut adalah manfaat madu Klanceng bagi kecantikan:
Melembapkan kulit
Mengangkat sel kulit mati
Menghilangkan komedo
Menyamarkan noda bekas jerawat
Menghilangkan flek hitam
Mengecilkan pori-pori wajah
Menghaluskan wajah
Mengobati jerawat
Mencegah penuaan dini dan membuat awet muda
Menyamarkan garis halus atau keriput
Melembapkan bibir
Mengatasi bibir pecah-pecah
Memerahkan bibir
Menguatkan rambut
Membuat rambut lebih berkilau
Menghitamkan rambut
Membasmi kutu rambut
Sumber: Health Line
Minggu, 07 Februari 2021
Om Awignam Astu
Di tahun 1489 (isaka 1411) Danghyang Nirartha datang di Bali. Sebelumnya Danghyang Nirartha berada tinggal di Dusun Gading Wani (Jembrana). Saat itu yang berkuasa selaku bandesa di Gading Wani ialah turunan Ki Bandesa Mas (Arya Tan Mundur). Ki Bandesa Mas berguru berkenaan keagamaan dan Dharma Brahmana ke Danghyang Nirartha. Sesudah didwijati Ki Bandesa Mas (Arya Tan Mundur) jalani Dharma Brahmana bertitel Ki Dusun dan selaku nabenya ialah Danghyang Nirartha. Disitu Danghyang Nirartha menginformasikan ke turunan Arya Tan Mundur yang berada di Dusun Gading Wani, bila mengadakan yadnya agar dipuput oleh Ki Dusun (Ki Dusun Macan Gading), begitu selanjutnya sampai anak cucu turunannya supaya yadnya dipuput turunan Ki Bandesa Mas (Ki Dusun).-
Ceritra kehadiran Danghyang Nirartha di Gading Wani ;
Wastu asing ngamong wisastra iki, sapreti Santana sira KGP Bandesa
Selasa, 19 Januari 2021
Panca Tan Matra Sebagai Inti Dari Semesta
Dalamdunia disadari sebagai bagian dari semesta atau juga bagian badan Tuhan (panentheism).Dalam Tattwa penciptaan, maka bumi terbentuk dari kehendak Cadu Sakti Saguna Brahman (Prabhu Wibhu Krya Jnana Sakti) yg membentuk purusha (inti hidup) serta juga prakerti (bahan kasar hidup)..Dalam hal ini purusha adalah jiwa suksma sarira dan prakerti adalah badan kasar Panca Maha Butha.
Badan yg ketiga adalah atman atau Brahman itu sendiri yg menjadi inti yg utama..Panca Maha Butha yg terdiri dari akasa,bayu,teja,apah,pertiwi adalah badan kasar manusia tumbuhan hewan dan jga dunia semesta degan persentase yg berbeda beda.Kemudian suksma sarira adalah badan halus roh jiwa yang dibagi menjadi Citta Budhi Manas Ahamkar.tergntung yg mana berkembang secara benar dan baik.
Pada Panca Maha Butha yg membentuk manusia dan juga ditopang oleh suksma sarira serta juga inti hidupnya yaitu atman, maka dunia semesta (baca:bumi ini) memiliki inti atau sebuah rasa di setiap bagian Panca Maha Butha yang ada.Itu disebut Panca Tan Matra.Panca Tan Matra ini juga lah yang memberikan sensasi serta daya rasa dari indera indera manusia Panca Budhindriya itu.Namun hal itu tidak lepas dari kehendak Nya dari Maya Triguna sebagai Hyang Wenang.
Panca Tan Matra itu sendiri adalah zat inti yg menghidupkan sensasi indriya.Adalah sebagai berikut :
1. Rupa tan matra sbagai inti melihat..
2.Gandha tan matra sbagai inti mencium bau2an..
3.Sabda tan matra inti suara dan jga yg didengar..
4.Sparsa tan matra inti dari sentuhan di kulit..
5. Rasa tan matra di pengecap.
Dalam upanishad sekilas dijelaskan bahwa .Panca Tan Matra sebagai berikut.
“Inti rupa..maka pejamkanlah mata dalam sinar cahaya mentari.dan pejam sampai inti itu masuk dan menghilang..maka yang tertinggal itu adalah rupa Tan Matra..”
“Inti sabda.maka heningkan diri dan derngarkan suara yang ada tutup telinga dan biarkan senyap yg tertinggal adalah inti sabda..”
“Inti bau..maka hirup semua dalam prana dan hembuskan semua itu.maka yang tertinggal itu adalah inti Gandha Tan Matra”
“Inti rasa.maka kecaplah seluruh rasa dan kemudian diamkan dan tenangkan..lalu terdiam sampai lenyap,maka yg masih tertinggal adalah rasa Tan Matra..”
“Inti sentuhan..maka rasakan angin yg berhembusndi kulit.dan menikmati sensasi itu..kmudian biarkan lenyap..maka yg tertinggal itu inti dari sparsa tan matra”(sesuai yg teringat)..
Ini adalah yg menjadi penghubung antara semesta dan juga indriya2 yg ada.Tentu ini juga tergntung dari inti hikmat inti yg memberi hidup Atmaning Loka Samastha yg dapat di tangkap Panca Indriya Buddhi.Karena ini lah seluruh Panca Maha butha mnjadi dapat dirasakan oleh sensoris tubuh mahluk itu sendiri..Sebuah Sensasi berbeda ketika ada yg berkembang degan cukup tinggi pada mahluk2 yg lebih rendah..Namun dlam hal ini idep manusia yg mmbuat perbedaan signifikan akan rahasia semesta itu sendiri.Ketika dalam keadaan panik dan bencana tentunya sensasi dari semesta tetap akan dipahami oleh lebih baik dari mahluk yg lain.Kuasa dari Brhman yang Hyang Wenang.
Ini juga disesuaikan dgn kehendak Hyang Dewata terhadap Maya Guna dari setiap jiwa dan wujud mahluk.Tentunya ketika hanya rajas,tamas yang dibiasakan,maka sensori akan sensitif pada kenikmatan Panca Karmendriya atau malah tidak terasakan inti utama kebenaran yang berasal dari hantaran Panca Tan Matra,materialitas yg membelenggu, semoga di dalam kehidupan keseimbangan dan harmoni dengan semesta serta isinya semakin meningkat.
Minggu, 17 Januari 2021
Membangun Kesadaran Diri Memalui Panca Maha Bhuta
Mantan Bupati Tabanan Di Tahan KPK
Mantan Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti terjerat kasus dugaan korupsi pengurusan Dana Insentif Daerah (DID), Tabanan, Bali tahun 2018 b...
Adzense
-
Gemuh Bali -Patut kawikanin sareng sami, sang maraga sulinggih ring agama Hindu ring Bali kaiket antuk sesana sajeroning kahuripane. Went...
-
Guss Eka-Gemuh Bali Dari awal terciptanya manusia dalam kandungan banyak sekali unsur-unsur yang membantunya, sehingga dapat menjadi manusia...
-
YRB - Bangli,27 Desember 2020. Dipenghujung tahun 2020 Yayasan Relawan Bali - Andy Karyasa Wayan melakukan kegiatan dalam BERBAGI SENYUM ber...










